Hadist tentang membicarakan semua yang didengar

•2011/04/07 • Leave a Comment

Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairoh berkata bahwa Rasulullah saw telah bersabda,”Cukuplah bagi orang itu disebut pembohong apabila dia membicarakan setiap yang dia dengar,” (HR. Muslim)

Imam Nawawi mengatakan sesungguhnya diantara kebiasaan adalah mendengarkan suatu kebenaran dan kebohongan dan apabila seseorang membicarakan setiap yang didengarnya maka sungguh ia adalah pendusta karena menginformasikan sesuatu yang belum terjadi. Dan kebohongan adalah menginfirmasikan tentang sesuatu yang bertentangan dengan yang sebenarnya dan tidak ada persyaratan didalamnya harus dengan sengaja.”

Dan dari al Mugiroh dari Syu’ah berkata,”Nabi saw bersabda,’Sesungguhnya Allah swt telah mengharamkan durhaka terhadap ibu, mengubur bayi perempuan (hidup-hidup), melarang dari meminta sesuatu yang bukan haknya’ dan beliau saw tidak menyukai kalian mengatakan ‘katanya, banyak bertanya dan menghambur-hamburkan harta.” (HR. Bukhori)

Ibnu Hajar menyebutkan pendapat al Muhib ath Thabari tentang makna dari “tidak menyukai kalian mengatakan,’katanya.” Bahwa makna hadits ini mengandung tiga hal :

1. Isyarat akan makruhnya banyak berbicara dikarenakan hal itu membawanya kepada kesalahan.

2. Maksudnya adalah menceritakan dan mencari-cari omongan-omongan orang untuk kemudian dia informasikan, seperti seorang yang mengatakan,”Si A telah mengatakan ini dan ada yang mengatakan dia mengatakan itu.” Larangan di sini bisa berupa teguran dari memperbanyak perbuatan itu atau bisa pula untuk sesuatu tertentu darinya, yaitu ketidaksukaan orang yang diceritakannya.

3. Adapun menceritakan perbedaan didalam permasalahan agama, seperti perkataan,”Si A telah berkata begini, si B telah berkata begitu.” dan yang menjadikannya makruh adalah memperbanyak hal itu. Karena tidaklah aman sesuatu yang terlalu banyak dari suatu kesalahan. Dan ini terhadap orang tertentu yang menginformasikan berita itu tanpa diteliti terlebih dahulu akan tetapi orang itu hanya bersikap taqlid (mengikuti) orang yang didengarnya tanpa adanya kehati-hatian, hal ini dipertegas dengan hadits,”Cukuplah seseorang disebut pembohong apabila menceritakan setiap yang didengarnya.” (HR. Muslim) – (www.islamOnline.net)

Dengan demikian diperlukan kehati-hatian didalam menyampaikan berita atau informasi dari setiap yang didengarnya kepada orang lain sebelum dilakukan penelitian terlebih dahulu akan kebenaran dari berita tersebut.

Informasi yang disampaikan sebelum dilakukan penelitian terlebih dahulu akan menjadikan informasi yang disampaikannya itu mengalami penambahan ataupun pengurangan dari apa yang sebenarnya dia dengar dari sumbernya, dan ini termasuk didalam kebohongan karena dia telah menyampaikan sesuatu yang berbeda dari hakekatnya.

Imam Nawawi mengatakan bahwa seyogyanya setiap orang yang sudah sampai usia taklif menjaga lisannya dari semua perkataan kecuali suatu perkataan yang tampak didalamnya kemaslahatan. Dan kapan saja berbicara sama maslahatnya dengan tidak berbicara maka disunnahkan untuk menahan dari membicarakannya karena hal itu bisa mengarahkan perkataan yang mubah menjadi haram atau makruh dan ini banyak terjadi..

Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairoh dari Nabi saw bersabda,”Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah berkata yang baik atau diam.” (Muttafaq Alaih)

Imam Nawawi mengatakan bahwa hadits ini secara tegas menyebutkan seyogyanya seseorang tidak berbicara kecuali apabila perkataannya itu adalah kebaikan, yaitu yang tampak didalamnya kemaslahatan dan kapan saja dia meragukan adanya kemaslahatan didalamnya maka hendaklah dia tidak berbicara. (Riyadhus Shalihin hal 445)

Wallahu A’lam

sumber: eramuslim

Adab berbicara

•2011/04/07 • Leave a Comment

1. Hendaknya pembicaran selalu di dalam kebaikan. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma`ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia”. (An-Nisa: 114).

2. hendaknya pembicaran dengan suara yang dapat dide-ngar, tidak terlalu keras dan tidak pula terlalu rendah, ungkapannya jelas dapat difahami oleh semua orang dan tidak dibuat-buat atau dipaksa-paksakan.

3. Jangan membicarakan sesuatu yang tidak berguna bagimu. Hadits Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyatakan: “Termasuk kebaikan islamnya seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna”. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

4. Jangan membicarakan sesuatu yang tidak berguna bagimu. Hadits Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyatakan: “Termasuk kebaikan islamnya seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna”. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

5. Janganlah kamu membicarakan semua apa yang kamu dengar. Abu Hurairah Radhiallaahu ‘anhu di dalam hadisnya menuturkan : Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Cukuplah menjadi suatu dosa bagi seseorang yaitu apabila ia membicarakan semua apa yang telah ia dengar”.(HR. Muslim)

6. Menghindari perdebatan dan saling membantah, sekali-pun kamu berada di fihak yang benar dan menjauhi perkataan dusta sekalipun bercanda. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku adalah penjamin sebuah istana di taman surga bagi siapa saja yang menghindari bertikaian (perdebatan) sekalipun ia benar; dan (penjamin) istana di tengah-tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun bercanda”. (HR. Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

7. Tenang dalam berbicara dan tidak tergesa-gesa. Aisyah Radhiallaahu ‘anha. telah menuturkan: “Sesungguhnya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila membicarakan suatu pembicaraan, sekiranya ada orang yang menghitungnya, niscaya ia dapat menghitungnya”. (Mutta-faq’alaih).

8. Menghindari perkataan jorok (keji). Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seorang mu’min itu bukanlah pencela atau pengutuk atau keji pembicaraannya”. (HR. Al-Bukhari di dalam Al-Adab Mufrad, dan dishahihkan oleh Al-Albani).

9. Menghindari sikap memaksakan diri dan banyak bicara di dalam berbicara. Di dalam hadits Jabir Radhiallaahu ‘anhu disebutkan: “Dan sesungguhnya manusia yang paling aku benci dan yang paling jauh dariku di hari Kiamat kelak adalah orang yang banyak bicara, orang yang berpura-pura fasih dan orang-orang yang mutafaihiqun”. Para shahabat bertanya: Wahai Rasulllah, apa arti mutafaihiqun? Nabi menjawab: “Orang-orang yang sombong”. (HR. At-Turmudzi, dinilai hasan oleh Al-Albani).

10. Mendengarkan pembicaraan orang lain dengan baik dan tidak memotongnya, juga tidak menampakkan bahwa kamu mengetahui apa yang dibicarakannya, tidak menganggap rendah pendapatnya atau mendustakannya.

11. Jangan memonopoli dalam berbicara, tetapi berikanlah kesempatan kepada orang lain untuk berbicara.

12. Menghindari perkataan kasar, keras dan ucapan yang menyakitkan perasaan dan tidak mencari-cari kesalahan pembicaraan orang lain dan kekeliruannya, karena hal tersebut dapat mengundang kebencian, permusuhan dan pertentangan.

13. Menghindari sikap mengejek, memperolok-olok dan memandang rendah orang yang berbicara. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokan), dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokan). (Al-Hujurat: 11).

14. Menghindari perbuatan menggunjing (ghibah) dan mengadu domba. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain”.(Al-Hujurat: 12)

15. Jangan terlalu keras bersuara, Allah . berfirman yang ertinya,  “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkan-lah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keldai.” (QS. Lukman :19)

16. Jangan memanggil tuan yang mulia kepada orang fasik.

Tidak Semua Yang Engkau Tahu Harus Terucapkan

•2011/04/06 • Leave a Comment

Laisa kullu ma yu’lamu yuqalu. Tidak semua yang diketahui itu harus terucapkan. Sebab likulli maqaamin maqaalun. Setiap kondisi dan keadaan itu mempunyai perkataan yang tepat. (atau jika anda mau anda juga bisa mengatakan bahwa ‘setiap perkataan itu memiliki saat dan kondisi yang tepat untuk di ucapkan’). Ini adalah sebuah nasehat penting bagi siapa yang diberi karunia ilmu dari Allah. Sebab nampaknya memang sulit untuk dipungkiri bahwa ‘mengetahui’ saja tidaklah cukup. Karena agar ‘perngetahuan’ itu jatuh ditempat yang tepat, kita membutuhkan ‘pemahaman’. Yang terakhir inilah yang disebut dengan istilah fiqh.
Yah, manusia ini banyak yang tidak mengetahui mengenai dien Allah. Hanya sedikit saya yang mengetahuinya. Dan dari sedikit yang mengetahui itu, semakin sedikit pula yang diberikan pemahaman. Maka untuk orang yang sangat khusus ini, sang Rasul SAW mengatakan: “man yuridi-llahu bihi khairan yufaqqih-hu fid-din.” Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah mendapatkan puncak segala kebaikan, maka Allah akan memahamkannya (membuatnya faqih) terhadap dien-Nya.
Anda mungkin pernah mendengar nama seorang tabi’in besar Waki’ ibn Al Jarrah. Kalau Anda belum pernah mendengar namanya, tentu anda sudah sering mendengar nama Imam asy Syafi’iy. Nah, imam Asy Syafi’iy ini adalah murid dari Waki’ ibn Al jarrah itu. Ketika Asy Syafi’iy mengalami kesulitan menghafal, pada sang guru inilah ia mengadu. Nasehat sang guru itu kemudian ia abadikan dalam sya’ir yang sangat terkenal:
Kemengadukan pada Waki’ akan hafalanku yang buruk
Lalu ia menasehatiku agar meninggalkan maksiat
Kerna ilmu itu adalah cahaya Allah
Dan cahaya itu takkan dikaruniakan pada pelaku maksiat
Waki’ ibn Al-Jarrah ini pernah mengalami kejadian yang sangat menakutkan akibat tergelincir dalam masalah yang dibahas dalam tulisan ini. Tetapi begitulah, setiap ‘alim di bumi ini akan mempunyai zallah, ketergelinciran dan ketersalahan. Tidak ada yang mas’shum selain Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Entah bagaimana kisahnya, Waki’ pernah mendengarkan sebuah riwayat tentang kisah kematian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Kisah itu ia riwayatkan dari seorang bernama Ismai’il ibn Abi Khalid. Lalu Isma’il ini meriwayatkannya daari ‘Abdullah Al Bahiyy. Nah, ‘Abdullahh Al-bahiyy inilah yang kemudian mengatakan bahwa “Sahabat Abu Bakr Shiddiq – Shallallahu Alaihi wa Sallam- mendatangi jenazah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Kemudian beliau bersimpuh dan menciumnya seraya mengatakan:”duhai, alangkah indahnya hidup dan kematianmu, wahai Rasulullah.” Setelah itu –masih berdasarkan penuturan ‘Abdullah Al Bahiy- jenazah beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam agak membengkak demikian pula jari-jari beliau.” Demikian –lah riwayat ‘abdullah Al-Bahiyy yang diterima oleh Waki’ ibn Al-Jarrah.
Suatu ketika dalam sebuah majlisnya di Mekkah, ia menyampaikan riwayat ini; sebuar riwayat yang sesungguhnya adalah riwayat yang mungkar dan munqathi’ (terputus). Mekkah pun heboh. Apa lagi kalangan orang Quraisy. Mereka berkumpul dan bersepakat untuk menyalib Waki’ yang dianggap melecehkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan meriwayatkan kisah tersebut. Padahal niat Waki’ sesungguhnya sangat baik. Ketika ia ditanya mengapa ia menyampaikan riwayat itu, ia mengatakan,”beberapa orang sahabat, diantaranya ‘Umar ibn Al-Khathtab tidak mempercayai bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengalami kematian. Maka (berdasarkan rewayat tersebut) Allah kemudian menunjukkan kepada mereka beberapa tanda kematian (yaitu anggota tubuh yang berubah menjadi agak membengkak).”
Sebuah alasan yang masuk akal. Namun orang-orang Quraisy sudah terlanjur marah. Mereka telah menyiapkan kayu untuk menyalibWaki’ ibn Al-Jarrah. Namun untunglah pertolongan Allah segera menghampirinya. Di saat yang genting itu, muncullah Sufyan ibn ‘Uyainah. Ia segera saja berteriak,”Demi Allah! Demi Allah! Jangan kalian lakukan itu! Ini adalah faqihnya negeri Irak, ayahnya juga seorang ‘alin besar disana. Sedangkan riwayat yang ia sampaikan itu adalah riwayat yang masyhur.” (Dan Sufyan tidak berdusta ketika mengatakan bahwa riwayat itu sebuah riwayat yang masyhur, sebab riwayat yang masyhur belum tentu shahih). Padahal –seperti kata Sufyan kemudian-: “aku belum pernha mendengarkan riwayat itu sebelumnya. Aku hanya ingin Waki’.”
Demikianlah akhir kisah Waki’ ibn Al Jarrah, guru Imam Asy-syafi’iy. Seperti kata seorang ahli besar, Adz Dzahaby,
“kisahnya sungguh aneh. Ia sesungguhnya bermaksud baik. Namun sangat disayangkan saat itu kenapa ia tidak memilih dian dan tidak menyampaikannya (riwayat itu). Padahal Nabi SAW telah mengatakan : “cukup menjadi dosa bagi seseorang bila ia membicarakan setiap apa yang ia pernah dengarkan.”… hampir saja nyawanya melayang…”
maka seperti kata-kata hikmah kitapun mengatakan, “…wa laisa kullu ma yuqaalu, yuqaalu fi kulii maqam…”-bila tidak semua yang diketahui pantas terucapkan- maka tidak semua yang pantas terucapkan itupun tidak serta merta dapat diucapkan di setiap tempat, waktu dan orang. Sebuah pesan penting untuk para empunya ilmu untuk bersikap bijak.
Sumber: Rindu Yang Berujung Surga, Abul Miodad Al-Madany

Kelezatan iman

•2011/04/06 • Leave a Comment

ذَاقَ طَعْمَ الإِيْمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللهِ رَبّاً، وَبِالإِسْلاَمِ دِيْناً، وَ بِمُحَمَّدٍ رَسُوْلاً

“Telah merasakan lezatnya keimanan; orang yang ridha Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai Rasul” (HR. Imam Muslim)

وعن أنس رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله وأن يكره أن يعود في الكفر بعد أن أنقذه الله منه كما يكره أن يقذف في النار متفق عليه

‘Tiga hal yang jika ada dalam diri seseorang, berarti telah merasakan lezatnya iman, yaitu ia mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi apap pun, mencintai seseorang karena Allah semata, dan benci kembali kepada kekafiran seperti kebenciannya bila dilempar ke neraka setelah diselamatkan Allah darinya.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

“Bila di hatimu tidak ada kelezatan yasng bisa kamu dapatkan dari amal yang kamu lakukan, maka curigailah hatimu. Karena Allah Maha Pemberi balasan.”

Maksudnya, Allah pasti membalas amal seseorang di dunia dengan kelezatan, pencerahan dan ketenangan yang ada di hatinya. Bila belum merasakan hal tersebut, berarti amalnya terkontaminasi.

Untuk dapat merasakan hal ini, tergantung kuat dan lemahnya cinta, kedekatan, dan pengenalannya tentang Allah. Semakin sempurna cinta, pengenalan, da kedekatannya, semakin kuat pula kelezatan, kenikmatan, dan kebahagiaan yang terasa.

Orang yang lebih mengenal Allah, nama dan sifat-Nya, lebih berharap kepada-Nya, lebih mencintai-Nya dan lebih dekat kepada-Nya pasti akan mendapatkan kelezatan ini di hatinya dan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Dalam hal ini, Ibnu Qayyim menulis:

“Seperti nikmat sorga yang tak sebanding dengan kenikmatan memandang wajah Allah, demikian pula kenikmatan dunia juga tak ada bandingnya dengan cinta, pengenalan dan kerinduan pada Allah. Kenikmatan memandang wajah Allah di sorga tergantung ma’rifat dan cinta pada Allah. Tiap kali ma’rifat dan cinta Allah bertambah, maka kelezatan karena dekat dengan-Nya, karena memandang-Nya, dan karena bertemu dengan-Nya akan makin besar pula.”

Bila hamba menyadari hal ini, maka ketika ia melakukan maksiat dan mengikuti tarikan syahwat-nya, kemanisan iman di hatinya pun tertutup dan terkurangi, bahkan terputus sama sekali.

Karena itu, hamba yang ikhlas dan tenang dengan mengingat Allah, serta rindu bertemu dengan-Nya akan menjauhi apa yang diharamkan. Dan ia menggantinya dengan amal baik. Menukar batu kali dengan permata, menukar sesuatu yang jelek dengan sesuatu yang sangat berharga.

Singkatnya, kenikmatan pencinta selalu ada meski terkadang bercampur kepedihan. Kalau saja orang yang jauh dari Allah tahu apa yang didapatkan para pencinta ini, hati mereka akan tercabik karenanya. Betapa hatga yang mereka bayar terlalu mahal dibanding kenikmatan semu yang diterima.

Virtues of Knowledge

•2011/04/01 • Leave a Comment

Allah, the Exalted, says:

“And say: `My Rubb! Increase me in knowledge.” (20:114)
“Are those who know equal to those who know not?”’ (39:9)
“Allah will exalt in degree those of you who believe, and those who have been granted knowledge.” (58:11)
“It is only those who have knowledge among His slaves that fear Allah.” (35:28)

Anas (radiallahu anh) reported: The Messenger of Allah (salallahu ‘alayhi wasallam) said: “Seeking knowledge is obligatory upon every Muslim.”
[Ibn Majah]

Al-Thawri (rahmatullahi alaih) said: “It is the knowledge for which no person has any excuse for not knowing.”

What is meant by knowledge here is knowledge of sharee’ah (Islamic knowledge).

See also: Is It Compulsory?: http://www.muftisays.com/blog/Seifeddine-M/1226_22-02-2011/is-it-compulsory.html

Mu`awiyah (radiallahu anh) reported: The Messenger of Allah (salallahu alayhi wa sallam) said, “When Allah wishes good for someone, He bestows upon him the understanding of Deen.”
[Al-Bukhari and Muslim]

Ibn Mas`ud (radiallahu anh) reported: The Prophet (salallahu alayhi wa sallam) said, “Envy is permitted only in two cases: A man whom Allah gives wealth, and he disposes of it rightfully, and a man to whom Allah gives knowledge which he applies and teaches it.”
[Al-Bukhari and Muslim]

Jealousy is forbidden and is held unlawful. The reason being that one who is jealous wants that the person, who possesses the quality of which he is jealous, be deprived of that quality. In these instances, however, envy is permissible for the reason that when one sees that a person has been graced by Allah with certain gifts and qualities, he also desires to be blessed with those gifts. In the latter case, he does not grumble and grieve but eagerly prays to Allah for those gifts. `Knowledge’ here stands for the knowledge of the Qur’an and Hadith because this knowledge alone is beneficial for man, and it is through this knowledge that correct judgements can be made among the people. This Hadith has an inducement for acquiring useful knowledge along with wealth to spend in the ways ordained by Allah.

Abu Musa (radiallahu anh) reported: The Messenger of Allah (salallahu alayhi wa sallam) said, “The guidance and knowledge with which Allah has sent me are like abundant rain which fell on a land. A fertile part of it absorbed the water and brought forth profuse herbage and pasture; and solid ground patches which retained the water by which Allah has benefited people, who drank from it, irrigated their crops and sowed their seeds; and another sandy plane which could neither retain the water nor produce herbage. Such is the similitude of the person who becomes well-versed in the religion of Allah and receives benefit from the Message entrusted to me by Allah, so he himself has learned and taught it to others; such is also the similitude of the person who has stubbornly and ignorantly rejected Allah’s Guidance with which I have been sent.”
[Al-Bukhari and Muslim]

Sahl bin Sa`d (radiallahu anh) reported: The Prophet (salallahu alayhi wa sallam) said to `Ali (radiallahu anh), “By Allah, if a single person is guided by Allah through you, it will be better for you than a whole lot of red camels.”
[Al-Bukhari and Muslim]

“Better for you than red camels” is an allegory for every thing that is better than anything else. Red camels used to be precious in Arabia, and their reference here is to highlight the value of guidance.

`Abdullah bin `Amr bin Al-`As (radiallahu anhuma) reported: The Prophet (salallahu alayhi wa sallam) said, “Convey from me even an Ayah of the Qur’an; relate traditions from Banu Israel, and there is no restriction on that; but he who deliberately forges a lie against me let him have his abode in the Hell.”
[Al-Bukhari]

Abu Hurairah (radiallahu anh) reported: The Messenger of Allah (salallahu alayhi wa sallam) said, “Allah makes the way to Jannah easy for him who treads the path in search of knowledge.”
[Muslim]

Abu Hurairah (radiallahu anh) reported: The Messenger of Allah (salallahu alayhi wa sallam) said, “He who calls others to follow the Right Guidance will have a reward equal to the reward of those who follow him, without their reward being diminished in any respect on that account.”
[Muslim]

Abu Hurairah (radiallahu anh) reported: The Messenger of Allah (salallahu alayhi wa sallam) said, “When a man dies, his deeds come to an end except for three things: Sadaqah Jariyah (ceaseless charity); a knowledge which is beneficial, or a virtuous decendant who prays for him (for the deceased).”
[Muslim]

Examples of Sadaqah Jariyah: building a mosque, or a hospital, or digging a well, etc. As long as people will benefit from these, he will receive a reward for them.

Abu Hurairah (radiallahu anh) reported: The Messenger o Allah (salallahu alayhi wa sallam) said, “The world, with all that it contains, is accursed except for the remembrance of Allah that which pleases Allah; and the religious scholars and seekers of knowledge.”
[At-Tirmidhi]

Anas (radiallahu anh) reported: The Messenger of Allah (salallahu alayhi wa sallam) said, “He who goes forth in search of knowledge is considered as struggling in the Cause of Allah until he returns.”
[At-Tirmidhi]

Abu Sa`id Al-Khudri (radiallahu anh) reported: The Messenger of Allah (salallahu alayhi wa sallam) said, “A believer never satisfies doing good until he reaches Jannah.”
[At-Tirmidhi]

Abu Umamah (radiallahu anh) reported: The Messenger of Allah (salallahu alayhi wa sallam) said, “The superiority of the learned over the devout worshipper is like my superiority over the most inferior amongst you (in good deeds).” He went on to say, “Allah, His angels, the dwellers of the heaven and the earth, and even the ant in its hole and the fish (in water) supplicate in favour of those who teach people knowledge.”
[At-Tirmidhi]

`Alim (learned person) here means scholar of the Qur’an and Hadith, who adheres to Faraid and Sunnah and remains busy in learning and imparting knowledge. `Abid (devout worshipper) is one who spends most of his time in the worship of Allah. The benefit of his voluntary prayer and remembrance of Allah is restricted to his own self while the benefit of knowledge of the scholar reaches others also. Hence, of the two, the latter is far superior.

Abud-Darda (radiallahu anh) reported: The Messenger of Allah (salallahu alayhi wa sallam) said, “He who follows a path in quest of knowledge, Allah will make the path of Jannah easy to him. The angels lower their wings over the seeker of knowledge, being pleased with what he does. The inhabitants of the heavens and the earth and even the fish in the depth of the oceans seek forgiveness for him. The superiority of the learned man over the devout worshipper is like that of the full moon to the rest of the stars (i.e., in brightness). The learned are the heirs of the Prophets who bequeath neither dinar nor dirham but only that of knowledge; and he who acquires it, has in fact acquired an abundant portion.”
[Abu Dawud and At-Tirmidhi]

Like the preceding Ahadith, this Hadith also mentions the eminence of learning religious knowledge, and respecting and honouring `Ulama’.

Ibn Mas`ud (radiallahu anh) reported: I heard the Messenger of Allah (salallahu alayhi wa sallam) saying, “May Allah freshen the affairs of a person who hears something from us and communicates it to others exactly as he has heard it (i.e., both the meaning and the words). Many a recepient of knowledge understands it better than the one who has heard it.”
[At-Tirmidhi]

Abu Hurairah (radiallahu anh) reported: The Messenger of Allah (salallahu alayhi wa sallam) said, “He who is asked about knowledge (of religion) and conceals it, will be bridled with a bridle of fire on the Day of Resurrection.”
[Abu Dawud and At-Tirmidhi]

Abu Hurairah (radiallahu anh) reported: The Messenger of Allah (salallahu alayhi wa sallam) said, “He who does not acquire knowledge with the sole intention of seeking the Pleasure of Allah but for worldly gain, will not smell the fragrance of Jannah on the Day of Resurrection.”
[Abu Dawud]

This Hadith has an inducement for acquiring knowledge for the Pleasure of Allah alone.

`Abdullah bin `Amr bin Al-`As (radiallahu anhuma) reported: I heard the Messenger of Allah (salallahu alayhi wa sallam) saying: “Verily, Allah does not take away knowledge by snatching it from the people, but He takes it away by taking away (the lives of) the religious scholars till none of the scholars stays alive. Then the people will take ignorant ones as their leaders, who, when asked to deliver religious verdicts, will issue them without knowledge, the result being that they will go astray and will lead others astray.”
[Al-Bukhari and Muslim]

It is a sign of the nearness of the Day of Judgement that the world will be deprived of genuine religious scholars, and illiterate people will become leaders who will have neither the knowledge of the Qur’an nor that of the Hadith.

Mirdas Al-Aslami (radiallahu anh) said: The Prophet (salallahu alayhi wa sallam) said, “The pious men will depart one after another, the dregs of people, like the sediment of barley or dates will remain; Allah will not raise them in value and esteem.”
[Al-Bukhari]

This Hadith shows that the demise of the pious people is one of the signs of the nearness of the Day of Resurrection. It also shows that during the last days near the Day of Resurrection, pious persons will not remain and only the wicked people will inhabit the earth and the Day of Judgement will dawn on such bad people.

source: http://www.muftisays.com/blog/Seifeddine-M/414_23-09-2010/virtues-of-knowledge-which-is-learnt-and-taught-for-the-sake-of-allah.html

 

Makna syahadat

•2011/03/31 • Leave a Comment

Penulis: Abu Yazid Nurdin

Pernahkah terlintas dalam benak kita pertanyaan, “Mengapa sila Ketuhanan Yang Maha Esa dapat diterima oleh semua agama di Indonesia? Padahal semua orang tahu bahwa agama selain Islam di Indonesia mempunyai lebih dari satu tuhan. Keesaan Tuhan yang bagaimanakah yang dimaksud dalam sila tersebut, sehingga tampaknya non-muslim (ahlul kitab atau bukan) menerima dengan ‘lapang dada’? Apakah makna Sila Pertama itu sama dengan Laa ilaaha illalloh, sehingga sebagian dari kita pun serta merta menjadi pendukungnya?!

Rukun Kalimat Laa ilaaha illalloh

Kalimat Laa ilaaha illalloh memiliki dua rukun, sebagaimana sholat, puasa dan haji mempunyai rukunnya masing-masing yang apabila rukun tersebut ditinggalkan maka tidak sah sholat, puasa atau hajinya. Rukun yang pertama adalah nafyi (peniadaan) yaitu penggalan kalimat Laa ilaaha, maksudnya, kalimat tersebut meniadakan hak peribadatan kepada selain Alloh. Rukun yang kedua adalah itsbat (penetapan) yaitu penggalan kalimat illalloh, maksudnya kalimat tersebut menetapkan hak peribadatan hanya milik Allah.

Alloh telah menjelaskan hakikat kedua rukun ini ketika menceritakan perkataan Ibrohim kepada ayah dan kaumnya, “Sesungguhnya aku berlepas diri terhadap apa yang kamu sembah. Tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menciptakanku, karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku.” (Az Zukhruf: 26-27). Penggalan ayat yang pertama, “Sesungguhnya aku berlepas diri terhadap apa yang kamu sembah” merupakan penjelasan penggalan kalimat Laa ilaaha. Sedangkan penggalan ayat yang kedua, “Tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menciptakanku” adalah penjelasan penggalan kalimat illalloh.

Jadi, Yang berhak diibadahi hanya Alloh saja. Tuhan-tuhan selain Alloh pada hakikatnya tidak layak dan tidak berhak untuk disembah dan diibadahi. Tetapi mengapa jin dan manusia tetap ada yang beribadah kepada selain Alloh padahal mereka telah mengucapkan kalimat syahadat? Ini menunjukkan kejahilan mereka tentang makna syahadat Laa ilaaha illalloh.

Kesalahpahaman dan Bantahannya

Sebagian orang ada yang memaknai kalimat Laa ilaaha illalloh adalah ”Tidak ada Pencipta kecuali Allah.” Makna ini malah diyakini oleh kebanyakan kaum muslimin di negeri kita, yang non-muslim pun mengakuinya. Kalaulah memang benar demikian maknanya, kesimpulannya kaum musyrikin Quraisy sudah mengucapkan kalimat syahadat. Karena mereka mengakui bahwa pencipta alam semesta, yang mengaturnya, memberi rizki kepada penghuninya, yang menghidupkan dan mematikan adalah Alloh Ta’ala.

Alloh berfirman kepada Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam untuk menyerukan kepada orang-orang musyrik, “Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab, ‘Alloh.’ Maka katakanlah, ‘Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?’” (Yunus: 31). Dalam ayat lain Alloh berfirman, “Katakanlah: ‘Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Alloh.’ Katakanlah: ‘Maka apakah kamu tidak ingat?’ Katakanlah: ‘Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘arsy yang besar?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Alloh.’ Katakanlah: ‘Maka apakah kamu tidak bertaqwa?’ Katakanlah: ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Alloh.’ Katakanlah: ‘(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?’” (Al Mu’minun: 84-89). Masih banyak lagi ayat-ayat yang menjelaskan hal ini. Oleh karena itu, jelaslah bagi kita bahwa pengakuan mereka akan rububiyah Alloh (bahwasanya yang menciptakan, mengatur dan memerintah hanyalah Alloh) tidak memasukkan mereka ke dalam Islam. Buktinya, Rosululloh memerangi mereka, menghalalkan darah dan harta mereka. Jadi pemaknaan kalimat Laa ilaaha illalloh dengan “Tidak ada Pencipta selain Alloh” adalah tidak benar. Karena bukan ini yang dimaksud dan diinginkan oleh Alloh dan Rosul-Nya.

Sebagian lagi ada yang memaknai kalimat Laa ilaaha illalloh adalah “Tidak ada Tuhan yang disembah melainkan Alloh”. Seandainya makna ini benar, maka artinya semua tuhan yang disembah adalah Alloh?!? Tidak mungkin. Karena Alloh adalah Ahad (Esa). Padahal musyrikin Quraisy dahulu menyembah/beribadah kepada Alloh, Lata, ‘Uzza, Manah dan Hubal, apakah mereka adalah Alloh? Tentu tidak. Kenyataannya orang Nasrani menyembah Bapa, Yesus (nabi Isa) dan Roh Kudus (malaikat Jibril), apakah Isa dan Jibril adalah Alloh? Tentu juga tidak. Kesimpulannya, pemaknaan seperti ini jelas tidak benar.

Makna Laa ilaaha illalloh Sesungguhnya

Yang benar, makna kalimat Laa ilaaha illalloh adalah “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Alloh”. Berarti, Tuhan yang berhak diibadahi adalah Alloh. Tuhan-tuhan selain Alloh tidak punya hak untuk disembah/diibadahi, walaupun jin dan manusia menyembahnya. Maka peribadatan kepada Alloh saja itulah yang benar (haq), sedangkan peribadatan kepada selain Alloh itulah yang salah (batil). Makna ini sesuai dengan firman Alloh, “Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Alloh, Dialah (Tuhan) Yang Haq, dan sesungguhnya apa saja yang mereka ibadahi selain Alloh, itulah yang batil, dan sesungguhnya Alloh, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Al Hajj: 62)

Konsekuensinya

Seseorang yang mengucapkan kalimat Laa ilaaha illalloh seharusnya memahami maknanya dengan landasan ilmu, meyakini kebenarannya serta mengamalkan konsekuensinya dengan anggota tubuhnya. Sehingga ia tidak membatalkan ucapannya sendiri karena ketidaktahuannya tentang hakikat pengucapan Laa ilaaha illalloh. Dan di antara konsekuensinya adalah apapun bentuk ibadah (seperti nadzar, sembelihan, tawakal, takut, mengharap dan sebagainya) yang kita lakukan harus ditujukan untuk Alloh saja, tidak kepada selain-Nya, entah itu nabi, malaikat, wali, jin, berhala, kuburan, bebatuan, pepohonan maupun yang lain.

Coba direnungkan!

Bukankah kita mengetahui bahwa orang-orang munafik semacam Abdulloh bin Ubay bin Salul juga mengucapkan kalimat syahadat Laa ilaaha illalloh? Ia mengucapkan kalimat syahadat dan juga mengerti maknanya, tetapi hatinya mengingkarinya dan tidak mengamalkan konsekuensinya. Namun di manakah tempat kembalinya orang-orang munafik? Alloh berfirman, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” (An Nisaa’: 145). Lalu bagaimana halnya keadaan kaum muslimin dewasa ini, khususnya di negeri kita, yang mengucapkan kalimat syahadat dengan lisannya, tapi tidak paham maknanya dan mengingkari kebenarannya serta tidak mengamalkan konsekuensinya, bukankah ini lebih parah dari orang-orang munafik? Mengapa sedikit sekali yang mengambil pelajaran? Wallohu a’lam.

Sumber:

http://muslim.or.id

Aqidah: Penjelasan Dimana Allah?

•2011/03/31 • Leave a Comment

Syaikhul Islam Abul ‘Abbas Ahmad ibnu Taimiyyah rohimahulloh pernah ditanya mengenai dua orang yang berselisih tentang masalah akidah/keyakinan. Seorang di antaranya berkata, “Orang yang tidak meyakini Alloh Subhanahu wa Ta’ala di atas langit adalah orang sesat.” Sedangkan yang satunya berkata, “Sesungguhnya Alloh itu tidak dibatasi oleh suatu tempat.” Padahal mereka berdua adalah sama-sama pengikut mazhab Syafi’i. Maka, jelaskanlah kepada kami tentang akidah Imam Syafi’i rodhiallohu ‘anhu yang kami ikuti dan bagaimanakah akidah yang benar?

Jawaban Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah:

Segala puji bagi Alloh, keyakinan Asy Syafi’i rohimahulloh dan keyakinan para pendahulu Islam seperti Malik, Ats Tsauri, Al Auza’i, Ibnu Mubarak, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahawaih, dan juga menjadi keyakinan para guru yang ditiru seperti Fudhail bin ‘Iyadh, Abu Sulaiman Ad Darani, Sahl bin Abdullah At Tusturi dan selain mereka adalah sama. Sesungguhnya di antara ulama tersebut dan yang seperti mereka tidak terdapat perselisihan dalam pokok-pokok agama.

Begitu pula Abu Hanifah rohmatullohi ‘alaihi, sesungguhnya keyakinan beliau dalam masalah tauhid, takdir dan perkara lainnya adalah sesuai dengan keyakinan para ulama di atas. Sedangkan keyakinan yang dipegang oleh para ulama itu adalah keyakinan para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, itulah keyakinan yang dikatakan oleh Al Kitab dan As Sunnah. Asy Syafi’i mengatakan di bagian awal Muqoddimah Kitab Ar Risalah:

الحمد لله الَّذِي هُوَ كَمَا وصف بِهِ نفسه، وفوق مَا يصفه بِهِ خلقه.

“Segala puji bagi Alloh yang (terpuji) sebagaimana sifat yang Dia tetapkan untuk diri-Nya sendiri. Sifat-sifat yang tidak bisa digambarkan oleh makhluknya.”

Dengan demikian beliau rohimahulloh menerangkan bahwa Alloh itu memiliki sifat sebagaimana yang Dia tegaskan di dalam Kitab-Nya dan melalui lisan rosul-Nya shollallohu ‘alaihi wa sallam.

Begitu pula yang dikatakan oleh Ahmad bin Hambal. Beliau mengatakan: Alloh tidak diberi sifat kecuali dengan yang Dia tetapkan sendiri, atau sifat yang diberikan oleh Rosul-Nya shollallohu ‘alaihi wa sallam tanpa disertai tahrif (penyelewengan makna), tanpa takyif (memvisualisasikan), tanpa tamsil (menyerupakan dengan makhluk), tetapi mereka menetapkan nama-nama terbaik dan sifat-sifat luhur yang Dia tetapkan bagi diri-Nya. Mereka yakini bahwasanya:

لَيْسَ كمثله شيء وَهُوَ السميع البصير

“Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai dengan-Nya, Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” baik dalam sifat-sifatNya, Zat-Nya maupun dalam perbuatan-perbuatanNya. Kemudian beliau berkata: Dialah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan segala yang ada di antara keduanya dalam waktu enam masa kemudian Dia bersemayam di atas Arsy; Dialah yang telah benar-benar berbicara dengan Musa; Dialah yang telah menampakkan diri kepada gunung dan gunung itu pun menjadi hancur terbelah karenanya, tidak ada satu makhluk pun yang memiliki sifat sama persis dengan-Nya, ilmu-Nya tidak sama dengan ilmu siapa pun, kemampuan-Nya tidak sama dengan kemampuan siapa pun, dan kasih sayang-Nya juga tidak sama dengan kasih sayang siapa pun, bersemayam-Nya juga tidak sama dengan bersemayamnya siapa pun, pendengaran dan penglihatan-Nya juga tidak sama dengan pendengaran dan penglihatan siapa pun. Ucapan-Nya tidak sama dengan ucapan siapa pun, penampakan diri-Nya tidak sebagaimana penampakan siapa pun.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah menginformasikan kepada kita di surga itu ada daging, susu, madu, air, sutera dan emas. Dan Ibnu Abbas telah berkata,

لَيْسَ فِي الدُّنْيَا مما فِي الآخرة إِلاَّ الأسماء.

“Tidak ada suatu pun di dunia ini yang ada di akhirat nanti kecuali hanya sama namanya saja.”

Apabila makhluk-makhluk yang gaib ini ternyata tidak sama dengan makhluk-makhluk yang tampak ini -padahal namanya sama- maka Sang Pencipta tentu sangat jauh berbeda dibandingkan dengan makhluk-Nya, inilah perbedaan Pencipta dengan makhluk yang diciptakan, meskipun namanya sama.

Alloh telah menamai diri-Nya Hayyan ‘Aliiman (Maha Hidup, Maha Mengetahui), Samii’an Bashiiran (Maha Mendengar, Maha Melihat), dan nama-Nya yang lain adalah Ra’uuf Rahiim (Maha Lembut, Maha Penyayang); Alloh itu hidup tidak seperti hidup yang dialami oleh makhluk, pengetahuan Alloh tidak seperti pengetahuan makhluk, pendengaran Alloh tidak seperti yang dialami pendengaran makhluk, penglihatan Alloh tidak seperti penglihatan makhluk, kelembutan Alloh tidak seperti kelembutan makhluk, kasih sayang Alloh tidak seperti kasih sayang makhluk.

Nabi bersabda dalam konteks hadits budak perempuan yang cukup populer: “Di mana Alloh?” Budak tersebut menjawab, “(Alloh) di atas langit.” Akan tetapi bukan berarti maknanya Alloh berada di dalam langit, sehingga langit itu membatasi dan meliputi-Nya. Keyakinan seperti ini tidak ada seorang pun ulama salaf dan ulama yang mengatakannya; akan tetapi mereka semuanya bersepakat Alloh berada di atas seluruh langit ciptaan-Nya. Dia bersemayam (tinggi) di atas ‘Arsy, terpisah dari makhluk-Nya; tidak terdapat sedikit pun unsur Dzat-Nya di dalam makhluk-Nya, begitu pula, tidak terdapat sedikit pun unsur makhluk-Nya di dalam Dzat-Nya.

Malik bin Anas pernah berkata:

إن الله فَوْقَ السماء، وعلمه فِي كلّ مكان

“Sesungguhnya Alloh berada di atas langit dan ilmu-Nya berada (meliputi) setiap tempat.”

Maka barang siapa yang meyakini Alloh berada di dalam langit dalam artian terbatasi dan terliputi oleh langit dan meyakini Alloh membutuhkan ‘Arsy atau butuh terhadap makhluk lainnya, atau meyakini bersemayamnya Alloh di atas ‘Arsy-Nya sama seperti bersemayamnya makhluk di atas kursinya; maka orang seperti ini adalah sesat, pembuat bid’ah dan jahil (bodoh). Barang siapa yang meyakini kalau di atas ‘Arsy itu tidak ada Tuhan yang disembah, di atas ‘Arsy itu tidak ada Tuhan yang orang-orang sholat dan bersujud kepada-Nya, atau meyakini Muhammad tidak pernah diangkat menghadap Tuhannya, atau meyakini kalau Al Quran tidak diturunkan dari sisi-Nya, maka orang seperti ini adalah Mu’aththil Fir’auni (penolak sifat Alloh dan pengikut Fir’aun), sesat dan pembuat bid’ah.

Ibnu Taimiyah berkata setelah penjelasan yang panjang, Orang yang mengatakan, “Barang siapa tidak meyakini Alloh di atas langit adalah sesat”, jika yang dimaksudkan adalah “barang siapa yang tidak meyakini Alloh itu di dalam lingkup langit sehingga Alloh terbatasi dan diliputi langit” maka perkataannya itu keliru. Sedangkan jika yang dimaksudkan dengan ucapan itu adalah “barang siapa yang tidak meyakini apa yang tercantum di dalam Kitab dan Sunnah serta telah disepakati oleh generasi awal umat ini dan para ulamanya -yaitu Alloh berada di atas langit bersemayam di atas ‘arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya- maka dia benar. Siapa saja yang tidak meyakininya berarti mendustakan Rosul shollallohu ‘alaihi wa sallam dan mengikuti selain orang-orang yang beriman. Bahkan sesungguhnya dia telah menolak dan meniadakan Tuhannya; sehingga pada hakikatnya tidak memiliki Tuhan yang disembah, tidak ada Tuhan yang dimintainya, tidak ada Tuhan yang ditujunya.”

Padahal Alloh menciptakan manusia -baik orang Arab maupun non-Arab- yang apabila berdoa maka akan mengarahkan hatinya ke arah atas, bukan ke arah bawah. Oleh karena itu ada orang bijak mengatakan: Tidak pernah ada seorang pun yang menyeru: “Ya Alloh!!” kecuali didapatkan di dalam hatinya -sebelum lisan tergerak- dorongan ke arah atas dan hatinya tidak terdorong ke arah kanan maupun kiri.

Ahlu ta’thil dan ta’wil (penolak dan penyeleweng sifat Alloh) memiliki syubhat dalam hal ini. Mereka benturkan Kitabullah dan Sunnah Rosulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam dengan syubhat ini, mereka tentang kesepakatan salaful ummah dan para ulama. Mereka tentang fitrah yang telah Alloh anugerahkan kepada hamba-hambaNya, mereka tentang sesuatu yang telah terbukti dengan akal sehat. Dalil-dalil ini semua bersepakat bahwa Alloh itu berada di atas makhluk-Nya, tinggi di atasnya. Keyakinan semacam ini Alloh anugerahkan sebagai fitrah yang dimiliki oleh orang-orang tua bahkan anak-anak kecil dan juga diyakini oleh orang badui; sebagaimana Alloh menganugerahkan fitrah berupa pengakuan terhadap adanya (Alloh) Pencipta Yang Maha tinggi. Rosulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits shahih:

كلّ مولود يولد عَلَى الفطرة؛ فأبواه يهودانه، أَوْ ينصّرانه، أَوْ يمجسانه، كَمَا تنتج البهيمة بهيمة جمعاء هَلْ تحسّون فِيهَا من جدعاء؟

“Semua bayi itu dilahirkan dalam keadaan fitrah; Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi, sebagaimana seekor binatang melahirkan anak dengan utuh tanpa ada anggota tubuh yang hilang, apakah menurutmu ada yang hilang telinganya (tanpa sebab sejak dari lahirnya)?”

Kemudian Abu Hurairah rodhiallohu ‘anhu berkata: Jika kalian mau bacalah,

فطرة الله الَّتِي فطر النَّاس عَلَيْهَا، لاَ تبديل لخلق الله

“Itulah fitrah Alloh yang manusia diciptakan berada di atasnya, tidak ada penggantian dalam fitrah Alloh.”

Inilah maksud dari perkataan Umar bin Abdul ‘Aziz: “Ikutilah agama orang-orang badui dan anak-anak kecil yang masih asli, yakinilah fitrah yang telah Alloh berikan kepada mereka, karena Alloh menetapkan bahwa fitrah hamba fitrah dan untuk memperkuat fitrah bukan untuk menyimpangkan dan juga bukan untuk mengubahnya.”

Sedangkan musuh-musuh para rosul seperti kaum Jahmiyah Fir’auniyah dan lain-lain itu bermaksud mengganti dan mengubah fitrah yang Alloh berikan, mereka lontarkan berbagai syubhat/kerancuan dengan kalimat-kalimat yang tidak jelas sehingga banyak orang itu tidak mengerti maksudnya; dan tidak bisa membantah mereka.

Sumber kesesatan mereka adalah penggunaan istilah-istilah yang bersifat global dan tidak bersumber dari Al Quran dan Sunnah Rosul-Nya shollallohu ‘alaihi wa sallam, juga tidak pernah pula dikatakan oleh salah seorang ulama kaum muslimin, seperti istilah tahayyuz, jisim (jasad/raga), jihhah (arah) dan lain sebagainya.

Barang siapa yang mengetahui bantahan syubhat mereka hendaklah dia menjelaskannya, namun barang siapa yang tidak mengetahuinya hendaknya tidak berbicara dengan mereka dan janganlah menerima kecuali yang berasal dari Al Kitab dan As Sunnah, sebagaimana yang difirmankan Alloh,

وَإِذَا رأيت الَّذِينَ يخوضون فِي آياتنا فأعرض عنهم حتّى يخوضوا فِي حديثٍ غيره

“Dan apabila kamu melihat orang-orang yang mempermainkan ayat-ayat Kami maka berpalinglah dari mereka hingga mereka mengganti pembicaraan.”

Barang siapa berbicara tentang Alloh, Nama dan Sifat-Nya dengan pendapat yang bertentangan dengan Al Kitab dan As Sunnah maka dia termasuk orang-orang yang mempermainkan ayat-ayat Alloh secara batil.

Kebanyakan dari mereka itu menisbatkan kepada para ulama kaum muslimin pendapat-pendapat yang tidak pernah mereka katakaberbagai hal yang tidak pernah mereka katakan, kemudian mereka katakan kepada para pengikut imam-imam itu: inilah keyakinan Imam Fulan; oleh karena itu apabila mereka dituntut untuk membuktikannya dengan penukilan yang sah dari para imam niscaya akan terbongkar kedustaannya.

Asy Syafi’i mengatakan, “Hukuman yang seharusnya dijatuhkan kepada Ahli ilmu kalam (baca: ahli filsafat) menurutku adalah dipukuli dengan pelepah kurma dan sandal lalu diarak mengelilingi kabilah-kabilah dan kaum-kaum sambil diumumkan: ‘Inilah balasan/hukuman yang dijatuhkan kepada orang yang meninggalkan Al Kitab dan As Sunnah dan malah menekuni ilmu kalam.’”

Abu Yusuf Al Qadhi berkata, “Barang siapa menuntut ilmu agama dengan belajar ilmu kalam dia akan menjadi zindiq (baca: sesat).”

Ahmad mengatakan “Tidak akan beruntung orang yang menggeluti ilmu kalam.”

Sebagian ulama mengatakan: Kaum mu’aththilah/penolak sifat Alloh itu pada hakikatnya adalah penyembah sesuatu yang tidak ada, sedangkan kaum mumatstsilah/penyerupa sifat Alloh dengan sifat makhluk itu adalah penyembah arca. Mu’aththil itu buta, dan mumatstsil itu rabun; padahal agama Alloh itu berada antara sikap melampaui batas/ghuluw dan sikap meremehkan.

Alloh ta’ala berfirman,

وكذلك جعلناكم أمّة وسطاً

“Dan demikianlah Kami jadikan kamu umat yang pertengahan.”

Posisi Ahlusunnah di dalam Islam seperti posisi Islam di antara agama-agama.

Walhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin.

(Majmu’ Fatawa V/256-261)

***

Dialihbahasakan oleh: Abu Muslih Ari Wahyudi
Artikel http://www.muslim.or.id