Kelezatan iman

ذَاقَ طَعْمَ الإِيْمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللهِ رَبّاً، وَبِالإِسْلاَمِ دِيْناً، وَ بِمُحَمَّدٍ رَسُوْلاً

“Telah merasakan lezatnya keimanan; orang yang ridha Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai Rasul” (HR. Imam Muslim)

وعن أنس رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله وأن يكره أن يعود في الكفر بعد أن أنقذه الله منه كما يكره أن يقذف في النار متفق عليه

‘Tiga hal yang jika ada dalam diri seseorang, berarti telah merasakan lezatnya iman, yaitu ia mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi apap pun, mencintai seseorang karena Allah semata, dan benci kembali kepada kekafiran seperti kebenciannya bila dilempar ke neraka setelah diselamatkan Allah darinya.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

“Bila di hatimu tidak ada kelezatan yasng bisa kamu dapatkan dari amal yang kamu lakukan, maka curigailah hatimu. Karena Allah Maha Pemberi balasan.”

Maksudnya, Allah pasti membalas amal seseorang di dunia dengan kelezatan, pencerahan dan ketenangan yang ada di hatinya. Bila belum merasakan hal tersebut, berarti amalnya terkontaminasi.

Untuk dapat merasakan hal ini, tergantung kuat dan lemahnya cinta, kedekatan, dan pengenalannya tentang Allah. Semakin sempurna cinta, pengenalan, da kedekatannya, semakin kuat pula kelezatan, kenikmatan, dan kebahagiaan yang terasa.

Orang yang lebih mengenal Allah, nama dan sifat-Nya, lebih berharap kepada-Nya, lebih mencintai-Nya dan lebih dekat kepada-Nya pasti akan mendapatkan kelezatan ini di hatinya dan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Dalam hal ini, Ibnu Qayyim menulis:

“Seperti nikmat sorga yang tak sebanding dengan kenikmatan memandang wajah Allah, demikian pula kenikmatan dunia juga tak ada bandingnya dengan cinta, pengenalan dan kerinduan pada Allah. Kenikmatan memandang wajah Allah di sorga tergantung ma’rifat dan cinta pada Allah. Tiap kali ma’rifat dan cinta Allah bertambah, maka kelezatan karena dekat dengan-Nya, karena memandang-Nya, dan karena bertemu dengan-Nya akan makin besar pula.”

Bila hamba menyadari hal ini, maka ketika ia melakukan maksiat dan mengikuti tarikan syahwat-nya, kemanisan iman di hatinya pun tertutup dan terkurangi, bahkan terputus sama sekali.

Karena itu, hamba yang ikhlas dan tenang dengan mengingat Allah, serta rindu bertemu dengan-Nya akan menjauhi apa yang diharamkan. Dan ia menggantinya dengan amal baik. Menukar batu kali dengan permata, menukar sesuatu yang jelek dengan sesuatu yang sangat berharga.

Singkatnya, kenikmatan pencinta selalu ada meski terkadang bercampur kepedihan. Kalau saja orang yang jauh dari Allah tahu apa yang didapatkan para pencinta ini, hati mereka akan tercabik karenanya. Betapa hatga yang mereka bayar terlalu mahal dibanding kenikmatan semu yang diterima.

Advertisements

~ by dasotyosot on 2011/04/06.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: