Tentang Bulan Syaban

•2011/07/25 • Leave a Comment

Asal Penamaan

Nama Sya’ban diambil dari kata: sya’bun, yang artinya kelompok atau golongan. Dinamakan Sya’ban, karena pada bulan ini masyarakat jahiliyah berpencar mencari air. Ada juga yang mengatakan, mereka berpencar menjadi beberapa kelompok untuk melakukan peperangan. (Lisanul ‘Arab ). Al-Munawi mengatakan: “Bulan rajab menurut masyarakat jahiliyah adalah bulan mulia, sehingga mereka tidak melakukan peperangan. Ketika masuk bulan sya’ban, bereka berpencar ke berbagai peperangan.” (at-Tauqif a’laa Muhimmatit Ta’arif, hal. 431)

Hadits Shahih Seputar Sya’ban

  1. Dari A’isyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan: Terkadang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam puasa beberapa hari sampai kami katakana, ‘Beliau tidak pernah tidak puasa’. Dan terkadang beliau tidak puasa terus hingga kami katakan, ‘Beliau tidak melakukan puasa’. Dan saya tidak pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan, saya juga tidak melihat beliau berpuasa yang lebih sering dari pada ketika di bulan Sya’ban. (HR. Al Bukhari & Mulim)
  2. A’isyah mengatakan: Belum pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari pada puasa bulan Sya’ban. Terkadang hampir beliau berpuasa Sya’ban sebulan penuh. (HR. Al Bukhari & Mulim)
  3. A’isyah mengatakan: Saya pernah memiliki hutanng puasa Ramadhan. Dan saya tidak mampu melunasinya kecuali di bulan Sya’ban. (HR. Al Bukhari & Mulim)
  4. A’isyah mengatakan: Bulan yang paling disukai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melaksanakan puasa adalah bulan Sya’ban, kemudian beliau lanjutkan dengan puasa Ramadhan. (HR. Ahmad, Abu Daud, An Nasa’i dan sanadnya dishahihkan Syaikh Syu’aib Al Arnauth)
  5. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika sudah masuk pertengahan Sya’ban, janganlah berpuasa.” (HR. Abu Daud, At Turmudzi, Ibn Majah, dan dishahihkan Al Albani)
  6. Ummu Salamah radhiallahu ‘anha mengatakan: Saya belum pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa dua bulan berturut-turut selain di bulan Sya’ban dan Ramadhan. (HR. An Nasa’i, Abu Daud, At Turmudzi dan dishahihkan Al Albani)
  7. Dari Usamah bin Zaid, beliau bertanya: Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat anda berpuasa dalam satu bulan sebagaimana anda berpuasa di bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ini adalah bulan yang sering dilalaikan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadhan. Ini adalah bulan dimana amal-amal diangkat menuju Rab semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi berpuasa.” (HR. An Nasa’i, Ahmad, dan sanadnya dihasankan Syaikh Al Albani)
  8. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari. Kecuali orang yang sudah terbiasa puasa sunnah, maka silahkan dia melaksanakannya.” (HR. Al Bukhari & Muslim)
  9. Dari Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Sya’ban. Maka Dia mengampuni semua makhluqnya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan” (HR. Ibn Majah, At Thabrani, dan dishahihkan Al Albani)

Hadits Dhaif Seputar Sya’ban

  1. Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya: Puasa sunnah apakah yang paling utama setelah Ramadhan? Beliau bersabda: “Sya’ban, dalam rangka mengagungkan Ramadhan…” (HR. At Turmudzi dari jalur Shadaqah bin Musa. Perawi ini disebutkan oleh Ad Dzahabi dalam Ad Dhu’afa, beliau mengatakan: Para ulama mendhaifkannya. Hadits ini juga didhaifkan Al Albani dalam Al Irwa.)
  2. Dari A’isyah radhiallahu ‘anha, beliau mengtakan: Suatu malam, saya kehilangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saya cari keluar, ternyata beliau di Baqi’….Beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala turun pada malam pertengahan bulan Sya’ban ke langit dunia. Kemudian Dia mengampuni dosa yang lebih banyak dari pada jumlah bulu kambingnya suku Kalb.” (HR. Ahmad, At Turmudzi, dan didhaifkan Imam Al Bukhari & Syaikh Al Albani)
  3. Dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika masuk malam pertengahan bulan Sya’ban maka shalat-lah di siang harinya. Karena Allah turun ke langit dunia ketika matahari terbenam. Dia berfirman: Mana orang yang meminta ampunan, pasti Aku ampuni, siapa yang minta rizki, pasti Aku beri rizki, siapa…. sampai terbit fajar.” (HR. Ibn Majah. Di dalam sanadnya terdapat Ibn Abi Subrah. Ibn Hajar mengatakan: Para ulama menuduh beliau sebagai pemalsu hadits. Hadits ini juga didhaifkan Syaikh Al Albani)
  4. Hadits: Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku. (Riwayat Abu Bakr An Naqasy. Al Hafidz Abul Fadhl Muhammad bin Nashir mengatakan: An Naqasy adalah pemalsu hadits, pendusta. Ibnul Jauzi, As Shaghani, dan As Suyuthi menyebut hadits ini dengan hadits maudlu’)
  5. Hadits: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil: Hai Ali, siapa yang shalat seratus rakaat di malam pertengahan bulan Sya’ban, di setiap rakaat membaca Al Fatihah dan surat Al Ikhlas sepuluh kali. Siapa saja yang melaksanakan shalat ini, pasti Allah akan penuhi kebutuhannya yang dia inginkan ketika malam itu…. (Hadits palsu, sebagaimana keterangan Ibnul Jauzi dalam Al Maudlu’at, 2/127 – 128, As Suyuthi dalam Al-Lali’ Al Mashnu’ah, 2/57 – 59, dan ulama pakar hadits lainnya )
  6. Hadits: Siapa yang melaksanakan shalat pada pertengahan bulan Sya’ban dua belas rakaat, di setiap rakaat dia membaca surat Al Ikhlas tiga kali maka sebelum selesai shalat, dia akan melihat tempatnya di surga. (Hadits palsu, disebutkan Ibnul Jauzi dalam Al Maudhu’at, 2/129 Ibnul Qoyim dalam Manarul Munif, hal. 99, dan dinyatakan palsu oleh pakar hadits lainnya)

Amalan Sunnah di Bulan Sya’ban

Pertama, memperbanyak puasa sunnah selama bulan Sya’ban

Ada banyak dalil yang menunjukkan dianjurkannya memperbanyak puasa di bulan sya’ban. Diantara hadits tersebut adalah:

Dari A’isyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan: Terkadang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam puasa beberapa hari sampai kami katakana, ‘Beliau tidak pernah tidak puasa’. Dan terkadang beliau tidak puasa terus hingga kami katakan, ‘Beliau tidak melakukan puasa’. Dan saya tidak pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan, saya juga tidak melihat beliau berpuasa yang lebih sering dari pada ketika di bulan Sya’ban. (HR. Al Bukhari & Mulim)

A’isyah juga mengatakan: Belum pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari pada puasa bulan Sya’ban. Terkadang hampir beliau berpuasa Sya’ban sebulan penuh. (HR. Al Bukhari & Muslim)

Hadits-hadits di atas merupakan dalil keutamaan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, melebihi puasa di bulan lainnya.

Ulama berselisih pendapat tentang hikmah dianjurkannya memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, mengingat adanya banyak riwayat tentang puasa ini. Pendapat yang paling kuat adalah keterangan yang sesuai dengan hadits dari Usamah bin Zaid, beliau bertanya: Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat anda berpuasa dalam satu bulan sebagaimana anda berpuasa di bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ini adalah bulan yang sering dilalaikan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadhan. Ini adalah bulan dimana amal-amal diangkat menuju Rab semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi berpuasa.” (HR. An Nasa’i, Ahmad, dan sanadnya dihasankan Syaikh Al Albani)

Kedua, memperbanyak ibadah di malam nishfu Sya’ban

Ulama berselisish pendapat tentang status keutamaan malam nishfu Sya’ban. Setidaknya ada dua pendapat yang saling bertolak belakang dalam masalah ini. Berikut keterangannya:

Pendapat pertama, tidak ada keuatamaan khusus untuk malam nishfu Sya’ban. Statusnya sama dengan malam-malam biasa lainnya. Mereka menyatakan bahwa semua dalil yang menyebutkan keutamaan malam nishfu Sya’ban adalah hadits lemah. Al Hafidz Abu Syamah mengatakan: Al Hafidz Abul Khithab bin Dihyah – dalam kitabnya tentang bulan Sya’ban – mengatakan: “Para ulama ahli hadits dan kritik perawi mengatakan: Tidak terdapat satupun hadits shahih yang menyebutkan keutamaan malam nishfu Sya’ban.” (Al Ba’its ‘ala Inkaril Bida’, hal. 33).

Syaikh Abdul Aziz bin Baz juga mengingkari adanya keutamaan bulan Sya’ban dan nishfu Saya’ban. Beliau mengatakan: “Terdapat beberapa hadits dhaif tentang keutamaan malam nishfu Sya’ban, yang tidak boleh dijadikan landasan. Adapun hadits yang menyebutkan keutamaan shalat di malam nishfu Sya’ban, semuanya statusnya palsu, sebagaimana keterangan para ulama (pakar hadits).” (At Tahdzir min Al Bida’, hal. 11)

Pendapat kedua, ada keutamaan khusus untuk malam nishfu Sya’ban. Pendapat ini berdasarkan hadits shahih dari Abu Musa Al Asy’ari radhiallahu ‘anhu, dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Sya’ban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan” (HR. Ibn Majah, At Thabrani, dan dishahihkan Al Albani).

Setelah menyebutkan beberapa waktu yang utama, Syaikhul Islam mengatakan: ….Pendapat yang dipegangi mayoritas ulama dan kebanyakan ulama dalam madzhab hambali adalah meyakini adanya keutamaan malam nishfu Sya’ban. Ini juga sesuai keterangan Imam Ahmad. Mengingat adanya banyak hadits yang terkait masalah ini, serta dibenarkan oleh berbagai riwayat dari para sahabat dan tabi’in…(Majmu’ Fatawa, 23/123)

Ibn Rajab mengatakan: Terkait malam nishfu Sya’ban, dulu para tabi’in penduduk Syam, seperti Khalid bin Ma’dan, Mak-hul, Luqman bin Amir, dan beberapa tabi’in lainnya, mereka memuliakannya dan bersungguh-sungguh dalam beribadah di malam itu…(Lathaiful Ma’arif, hal. 247).

Kesimpulan:

Dari keterangan di atas, ada beberapa hal yang dapat disimpulkan:

  1. Nishfu Sya’ban termasuk malam yang memiliki keutamaan. Hal ini berdasarkan hadits yang telah disebutkan. Meskipun sebagian ulama menyebut hadits ini hadits yang dhaif, namun insyaAllah yang lebih kuat adalah penilaiannya Syaikh Al Albani bahwa hadits tersebut statusnya shahih.
  2. Tidak ditemukan satupun riwayat yang menganjurkan amalan tertentu ketika nishfu Sya’ban. Baik berupa puasa atau shalat. Hadits di atas hanya menunjukkan bahwa Allah mengampuni semua hamba-Nya di malam nishfu sya’ban, kecuali dua jenis manusia yang disebutkan dalam hadits tersebut.
  3. Ulama berselisih pendapat tentang apakah dianjurkan menghidupkan malam nishfu Sya’ban dengan banyak beribadah. Sebagian ulama menganjurkan, seperti sikap beberapa ulama Tabi’in yang bersungguh-sungguh dalam ibadah. Sebagian yang lain menganggap bahwa mengkhususkan malam nishfu Sya’ban untuk beribadah adalah bid’ah.
  4. Ulama yang membolehkan memperbanyak amal di malam nishfu Sya’ban, mereka menegaskan bahwa tidak boleh mengadakan acara khusus, atau ibadah tertentu, baik secara berjamaah maupun sendirian di malam ini. Karena tidak ada amalan sunnah khusus di malam nishfu Sya’ban. Sehingga, menurut pendapat ini, seseorang dibolehkan memperbanyak ibadah secara mutlak, apapun bentuk ibadahnya.

Amalan Bid’ah di Bulan Sya’ban

Ada banyak bid’ah yang digelar ketika bulan Sya’ban. Umumnya kegiatan bid’ah ini didasari hadits-hadits dhaif yang banyak tersebar di masyarakat. Terutama terkait dengan amalan nishfu sya’ban. Berikut adalah beberapa kegiatan bid’ah yang sering dilakukan di bulan Sya’ban:

Pertama, Shalat sunnah berjamaah atau mengadakan kegiatan ibadah khusus di malam nishfu sya’ban

Terdapat hadits shahih yang menyebutkan keutamaan malam nishfu Sya’ban, namun tidak ditemukan satupun hadits shahih yang menyebutkan amalan tertentu di bulan Sya’ban. Oleh karena itu, para ulama menegaskan terlarangnya mengkhususkan malam nishfu Sya’ban untuk melaksanakan ibadah tertentu.

Kedua, Shalat Alfiyah

Manusia pertama yang membuat bid’ah shalat Alfiyah di malam nishfu Sya’ban adalah seseorang yang bernama Ibn Abil Hamra’, yang berasal dari daerah Nablis, Palestina. Dia datang ke Baitul Maqdis pada tahun 448 H. Dia memiliki suara bacaan Al Qur’an yang sangat merdu. Ketika malam nishfu Sya’ban, dia shalat dan diikuti oleh seseorang di belakangnya sebagai makmum. Kemudian makmum bertambah tiga, empat,..hingga sampai selesai shalat jumlah mereka sudah menjadi jamaah yang sangat banyak.

Kemudian di tahun berikutnya, dia melaksanakan shalat yang sama bersama jamaah yang sangat banyak. Kemudian tersebar di berbagai masjid, hingga dilaksanakan di rumah-rumah, akhirnya jadilah seperti amalan sunnah. (At Tahdzir Minal Bida’, karya At Turthusyi, hal. 121 – 122).

Tata caranya:

Shalat ini dinamakan shalat alfiyah, karena dalam tata caranya terdapat bacaan surat Al Ikhlas sebanyak seribu kali. Di baca dalam seratus rakaat. Tiap rakaat membaca surat Al Ikhlas sebanyak 10 kali. (Al Bida’ Al Hauliyah, hal. 149)

Semua ulama sepakat bahwa shalat Alfiyah hukumnya bid’ah.

Ketiga, Tradisi Ruwahan-sadranan (selamatan bulan di Sya’ban)

Tradisi ini banyak tersebar di daerah jawa. Mereka menjadikan bulan ini sebagai bulan khusus untuk berziarah kubur dan melakukan selamatan untuk masyarakat kampung. Pada hakekatnya tradisi ini merupakan warisan agama hindu-animisme-dinamisme. Sehingga bisa kita tegaskan hukumnya terlarang, karena kita dilarang untuk melestarikan adat orang kafir. Atau, setidaknya tradisi ini termasuk perbuatan bid’ah yang sesat.

sumber:  http://muslimah.or.id/manhaj/bulan-syaban.html

Tentang Bulan Rajab

•2011/07/25 • Leave a Comment

Asal Penamaan

Dinamakan bulan Rajab, dari kata rajjaba – yurajjibu yang artinya mengagungkan. Bulan ini dinamakan Rajab karena bulan ini diagungkan masyarakat Arab. (keterangan Al Ashma’i, dikutip dari Lathaiful Ma’arif, hal. 210)

Keutamaan Bulan Rajab

Bulan Rajab termasuk salah satu empat bulan haram.
Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus..” (QS. At Taubah: 36)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبٌ شَهْرُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Sesungguhnya zaman berputar sebagaimana kondisinya, ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan, diantaranya empat bulan haram. Tiga bulan ber-turut-turut: Dzul Qa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan satu bulan: Rajab suku Mudhar, yaitu bulan antara Jumadi (tsaniyah) dan sya’ban.” (HR. Al Bukhari & Muslim)

Keterangan:
Disebut “Rajab suku Mudhar” karena suku Mudhar adalah suku yang paling menjaga kehormatan bulan Rajab, dibandingkan suku-suku yang lain. Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi batasan: antara Jumadil (tsaniyah) dan sya’ban, sebagai bentuk menguatkan makna. (Umdatul Qori, 26/305)
Ada yang menjelaskan, disebut “Rajab suku Mudhar” untuk membedakan dengan bulan yang diagungkan suku Rabi’ah. Suku Rabi’ah menghormati bulan Ramadhan, sementara suku Mudhar mengagungkan bulan Rajab. Karena itu bulan ini dinisbahkan kepada suku Mudhar.

Hadis Dlaif Terkait Bulan Rajab

  1. Hadis: “Sesungguhnya di surga ada sebuah sungai, namanya sungai Rajab. Airnya lebih putih dari pada susu, lebih manis dari pada madu, siapa yang puasa sehari di bulan Rajab maka Allah akan memberi minum orang ini dengan air sungai tersebut.” (Riwayat Abul Qosim At Taimi dalam At Targhib wat Tarhib, Al Hafidz Al Ashbahani dalam kitab Fadlus Shiyam, dan Al Baihaqi dalam Fadhail Auqat. Ibnul Jauzi mengatakan dalam Al Ilal Al Mutanahiyah: Dalam sanadnya terdapat banyak perawi yang tidak dikenal, sanadnya dhaif secara umum, namun tidak sampai untuk dihukumi palsu.)
  2. Hadis: “Allahumma baarik lanaa fii rajabin wa sya’baana wa ballighnaa Ramadhaana.” (Riwayat Ahmad, dan di sanadnya terdapat perawi Zaidah bin Abi Raqqad, dari Ziyadah An Numairi. Tentang para perawi ini, Imam Bukhari mengatakan: Munkarul hadis. An Nasa’i mengatakan: Mungkarul hadis. Sementara Ibn Hibban menyatakan: hadisnya tidak bisa dijadikan dalil)
  3. Hadis: “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah puasa setelah Ramadhan, selain di bulan Rajab dan Sya’ban.” (Riwayat Al Baihaqi. Ibn Hajar mengatakan: ini adalah hadis munkar, disebabkan adanya perawi yang bernama Yusuf bin Athiyah, dia orang yang dhaif sekali.- Tabyinul Ajbi, hal. 12)
  4. Hadis: “Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.” (Riwayat Abu Bakr An Naqasy. Al Hafidz Abul Fadhl Muhammad bin Nashir mengatakan: An Naqasy adalah pemalsu hadis, pendusta. Ibnul Jauzi, As Shaghani, dan As Suyuthi menyebut hadis ini dengan hadis maudlu’)
  5. Hadis: “Keutamaan Rajab dibanding bulan yang lain, seperti keutamaan Al Qur’an dibanding dzikir yang lain.” (Ibn Hajar mengatakan: Perawi hadis ini ada yang bernama As Saqathi, dia adalah penyakit dan orang yang terkenal sebagai pemalsu hadis).
  6. Hadis: “Rajab adalah bulan Allah Al Asham. Siapa yang berpuasa sehari di bulan Rajab, atas dasar iman dan ihtisab (mengharap pahala) maka dia berhak mendapat ridla Allah yang besar.” (Hadis palsu, sebagaimana penjelasan As Syaukani dalam Al Fawaid Al Majmu’ah)
  7. Hadis: “Barangsiapa yang berpuasa tiga hari bulan Rajab, Allah catat baginyu puasa sebulan penuh. Siapa yang puasa tujuh hari maka Allah menutup tujuh pintu neraka.” (Hadis maudlu, sebagaimana keterangan Ibnul Jauzi dalam Al Maudlu’at, 2/206)
  8. Hadis: “Siapa yang shalat maghrib di malam pertama bulan Rajab, setelah itu dia shalat dua puluh rakaat, setiap rakaat dia membaca Al Fatihah dan surat Al Ikhlas sekali, dan dia melakukan salam sebanyak sepuluh kali. Tahukah kalian apa pahalanya? ….lanjutan hadis: Allah akan menjaga dirinnya, keluarganya, hartanya, dan anaknya. Dia dilindungi dari siksa kubur, …“(Hadis maudlu, sebagaimana keterangan Ibnul Jauzi dalam Al Maudlu’at, 2/123)
  9. Hadis: “Siapa yang puasa di bulan Rajab dan shalat empat rakaat…maka dia tidak akan mati sampai dia melihat tempatnya di surga atau dia diperlihatkan.” (Hadis maudlu, sebagaimana keterangan Ibnul Jauzi dalam Al Maudlu’at, 2/124, Al Fawaid Al Majmu’ah, hal. 47)
  10. Hadis Shalat Raghaib: “Rajab bulan Allah, Sya’ban bulanku, dan Ramadlan bulan umatku… namun janganlah kalian lupa dengan malam jum’at pertama bulan Rajab, karena malam itu adalah malam yang disebut oleh para malaikat dengan Ar Raghaib. Dimana apabila telah berlalu sepertiga malam, tidak ada satupun malaikat yang berada di semua lapisan langit dan bumi, kecuali mereka berkumpul di ka’bah dan sekitarnya. Kemudian Allah melihat kepada mereka, dan berfirman: Wahai malaikatKu, mintalah apa saja yang kalian inginkan. Maka mereka mengatakan: Wahai Tuhan kami, keinginan kami adalah agar engkau mengampuni orang yang suka puasa Rajab. Allah berfirman: Hal itu sudah Aku lakukan. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Siapa yang berpuasa hari kamis pertama di bulan Rajab, kemudian shalat antara maghrib sampai isya’ – yaitu pada malam jum’at – dua belas rakaat…’” (Hadis palsu, sebagaimana keterangan Ibnul Jauzi dalam Al Maudhu’at, 2/124 – 126, Ibnu Hajar dalam Tabyinul ‘Ujbi, hal. 22 – 24, dan As Syaukani dalam Al fawaid Al Majmu’ah, hal. 47 – 50)
  11. Hadis: “Barangsiapa yang shalat pada malam pertengahan bulan Rajab, sebanyak 14 rakaat, setiap rakaat membaca Al Fatihah sekali dan surat Al Ikhlas 20 kali…..” (Hadis palsu, sebagaimana keterangan Ibnul Jauzi dalam Al Maudhu’at, 2/126, Ibnu Hajar dalam Tabyinul ‘Ujbi, hal. 25, As Syaukani dalam Al Fawaid Al Majmu’ah, hal. 50)
  12. Hadis: “Sesungguhnya bulan Rajab adalah bulan yang agung, siapa yang berpuasa sehari, Allah akan mencatat baginya puasa seribu tahun…”(Hadis palsu, sebagaimana keterangan Ibnul Jauzi dalam Al Maudhu’at, 2/206 – 207, Ibnu Hajar dalam Tabyinul ‘Ujbi, hal. 26, As Syaukani dalam Al Fawaid Al Majmu’ah, hal. 101, As Suyuthi dalam Al Lali’ Al Mashnu’ah, 2/115)

Bulan Rajab Dalam Pandangan Masyarakat Jahiliyah

Masyarakat jahiliyah sangat menghormati bulan Rajab. Ini terlihat dari banyaknya acara peribadatan pada bulan ini. Diantara ritual ibadah mereka di bulan rajab adalah menyembelih binatang, yang disebut ‘Athirah atau Rajabiyah. Mereka persembahkan sembelihannya untuk sesembahan mereka. Mereka juga berpuasa di bulan Rajab, kemudian diakhiri dengan menyembelih ‘Athirah. Masyarakat jahiliyah juga melarang keras adanya peperangan yang terjadi bebepatan di bulan Rajab.
Disamping itu, mereka memberikan banyak nama untuk bulan Rajab. Ada yang menyebutkan, bulan ini memililki 14 nama. Diantaranya: Syahrullah, Rajab, Rajab Mudhar, Munshilul Asinnah, Al Asham, dll. Bahkan ada yang menyebutkan, bulan ini memiliki 17 nama. Sedangkan masyarakat memiliki kaidah, bahwa sesuatu yang memiliki banyak nama itu menunjukkan bahwa hal itu adalah sesuatu yang mulia.

Dulu masyarakat jahiliyah memilih bulan Rajab untuk mendo’akan orang yang mendhalimi mereka, dan biasanya do’a itu dikabulkan. Hal ini pernah disampaikan kepada Umar bin Khattab, kemudian beliau mengatakan: Sesungguhnya Allah memperlakukan hal itu kepada untuk menjauhkan hubungan antara satu suku dengan suku yang lain. Dan Allah jadikan kiamat sebagai hari pertanggung jawaban.

Disebutkan dalam sebuah riwayat, dari Kharshah bin Al Har, bahwa beliau melihat Umar bin Khatab memukuli telapak tangan beberapa orang, sampai mereka letakkan tangannya di wadah, kemudian beliau menyuruh mereka: Makanlah (jangan puasa). Karena dulu, bulan ini diagungkan oleh masyarakat jahiliyah. (HR. Ibn Abi Syaibah dan sanadnya dishahihkan Al Albani)

Amalan Sunnah di Bulan Rajab

Tidak terdapat amalan khusus terkait bulan Rajab. Baik bentuknya shalat, puasa, zakat, maupun umrah. Mayoritas ulama menjelaskan bahwa hadis yang menyebutkan amalan bulan rajab adalah hadis bathil dan tertolak.

Ibn Hajar mengatakan: Tidak terdapat riwayat yang shahih, bisa untuk dijadikan dalil tentang keutamaan bulan Rajab, baik bentuknya puasa sebulan penuh atau puasa di tanggal tertentu bulan rajab atau shalat tahajjud di malam tertentu. Keterangan saya ini telah didahului oleh ketengan Imam Abu Ismail Al Harawi. (Tabyinul Ujub bimaa warada fii Fadli Rajab, hal. 6)

Imam Ibn Rajab mengatakan: “Tidak terdapat dalil yang shahih, yang menyebutkan adanya anjuran shalat tertentu di bulan Rajab. Adapun hadis yang menyebutkan keutamaan shalat Raghaib di malam jum’at pertama bulan rajab adalah hadis dusta, bathil, dan tidak shahih. Shalat Raghaib adalah bid’ah menurut mayoritas ulama.” (Lathaiful Ma’arif, hal. 213)

Terkait masalah puasa di bulan Rajab, Imam Ibn Rajab juga menegaskan, tidak ada satupun hadis shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keutamaan puasa bulan Rajab secara khusus. Hanya terdapat riwayat dari Abu Qilabah, bahwa beliau mengatakan: “Di surga terdapat istana untuk orang yang rajin berpuasa di bulan Rajab.” Namun riwayat bukan hadis. Imam Al Baihaqi mengomentari keterangan Abu Qilabah: “Abu Qilabah termasuk Tabi’in senior, beliau tidak menyampaikan riwayat itu selain hanya kabar tanpa sanad.” (Lathaiful Ma’arif, hal. 213)

Pertama, Puasa Sunnah bulan haram
Akan tetapi, jika seseorang melaksanakan puasa di bulan Rajab dengan niat puasa sunnah di bulan-bulan haram maka ini dibolehkan, bahkan dianjurkan. Mengingat sebuah hadits yanng diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Daud, Al Baihaqi dan yang lainnya, bahwa suatu ketika datang seseorang dari suku Al Bahili menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia meminta diajari berpuasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan: “Puasalah sehari tiap bulan.” Orang ini mengatakan: “Saya masih kuat, tambahkanlah!” “Dua hari setiap bulan”. Orang ini mengatakan: “Saya masih kuat, tambahkanlah!” “Tiga hari setiap bulan.” orang ini tetap meminta untuk ditambahi. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Puasalah di bulan haram dan berbukalah (setelah selesai bulan haram).” (Hadis ini dishahihkan sebagaian ulama dan didhaifkan ulama lainnya). Namun diriwayatkan bahwa beberapa ulama salaf berpuasa di semua bulan haram. Dinataranya: Ibn Umar, Hasan Al Bashri, dan Abu Ishaq As Subai’i.

Kedua, Mengkhususkan Umrah di bulan Rajab
Diriwayatkan bahwa Ibn Umar pernah mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan umrah di bulan Rajab. Kemudian ucapan beliau ini diingkari A’isyah dan beliau diam saja. (HR. Al Bukhari & Muslim)
Umar bin Khatab dan beberapa sahabat lainnya menganjurkan umrah bulan Rajab. A’isyah dan Ibnu Umar juga melaksanakan umarah bulan Rajab.

Ibnu Sirin menyatakan, bahwa para sahabat melakukan hal itu. Karena rangkaian haji dan umrah yang paling bagus adalah melaksanakan haji dalam satu perjalanan sendiri dan melaksanakan umrah dalam satu perjalanan yang lain, selain di bulan haji. (Al Bida’ Al Hauliyah, hal 119).

Dari penjelasan Ibn Rajab menunjukkan bahwa melakukan umrah di bulan Rajab hukumnya dianjurkan. Beliau berdalil dengan anjuran Umar bin Khatab untuk melakukan umrah di bulan Rajab. Dan dipraktekkan oleh A’isyah dan Ibnu Umar.
Diriwayatkan Al Baihaqi, dari Sa’id bin Al Musayib, bahwa A’isyah radliallahu ‘anha melakukan umrah di akhir bulan Dzulhijjah, berangkat dari Juhfah, beliau berumrah bulan Rajab berangkat dari Madinah, dan beliau memulai Madinah, namun beliau mulai mengikrarkan ihramnya dari Dzul Hulaifah. (HR. Al Baihaqi dengan sanad hasan)

Namun ada sebagian ulama yang menganggap umrah di bulan Rajab tidak dianjurkan. Karena tidak ada dalil khusus terkait umrah bulan Rajab. Ibnu Atthar mengatakan: Diantara berita yang sampai kepadaku dari penduduk Mekah, banyaknya kunjungan di bulan Rajab. Kejadian ini termasuk masalah yang belum kami ketahui dalilnya. Bahkan terdapat hadis yang shahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Umrah di bulan Ramadhan nilainya seperti haji.” (HR. Al Bukhari)

Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh mengatakan, bahwa para ulama mengingkari sikap mengkhususkan bulan Rajab untuk memperbanyak melaksanakan umrah. (Majmu’ Fatawa Syaikh Muhammad bin Ibrahim, 6/131)

Kesimpulan:
Pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini, mengkhususkan umrah di bulan Rajab adalah perbuatan yang tidak ada landasannya dalam syariat. Karena tidak ada satupun dalil yang menunjukkan anjuran mengkhususkan bulan Rajab untuk pelaksanaan umrah. Disamping itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak pernah melakukan umrah di bulan Rajab, sebagaimana disebutkan dalam hadis sebelumnya.

Andaikan ada keutamaan mengkhususkan umrah di bulan Rajab, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memberi tahukan kepada umatnya. Sebagaimana beliau memberi tahu umatkan akan keutamaan umrah di bulan Ramadlan. Sedangkan riwayat dari Umar bahwa beliau menganjurkan umrah di bulan Rajab, yang benar sanadnya dipermasalahkan.

Ketiga, Menyembelih hewan (Atirah)
Atirah adalah hewan yang disembelih di bulan Rajab untuk tujuan beribadah.
Ulama berselisih pendapat tentang hukum atirah.

Pendapat pertama, athirah dianjurkan. Dalilnya adalah hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang ‘Athirah, kemudian beliau menjawab: “Athirah itu hak.” (HR. Ahmad, An Nasa’i dan As Suyuthi dalam Jami’us Shaghir)

Pendapat kedua, atirah tidak disyariatkan, namun tidak makruh. Dalilnya, hadis dari Abu Razin, Laqirh bin Amir Al Uqaili, beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Kami menyembelih hewan di bulan Rajab di zaman Jahilliyah. Kami memakannya dan memberi makan tamu yang datang. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak masalah.” (HR. An Nasa’i, Ad Darimi, dan Ibn Hibban)

Pendapat ketiga, atirah hukumnya makruh. Berdasarkan hadis, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada Fara’a dan tidak ada Atirah.” (HR. Al Bukhari & Muslim)
Fara’a adalah anak pertama binatang, yang disembelih untuk berhala.

Pendapat keempat, atirah hukumnya haram. Ini adalah pendapat yang dipilih Ibnul Qoyim dan Ibnul Mundzir. Ibnul Qoyim mengatakan: “Dulu masyarakat arab melakukan atirah di masa jahiliyah, kemudian mereka tetap melakukannya, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendukungnya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya, melalui sabdanya: “Tidak ada fara’a dan tidak ada atirah.” akhirnya para sahabat meninggalkannya, karena adanya larangan beliau. Dan telah dipahami bersama, bahwa larangan itu hanya akan muncul, jika sebelumnya ada yang melakukannya. Sementara tidak kita jumpai adanya satupun ulama yang mengatakan: Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang atirah kemudian beliau membolehkannya kembali…” (Tahdzib Sunan Abu Daud, 4/92 – 93). InsyaaAllah, pendapat inilah yang lebih mendekati kebenaran.

Bid’ah-Bid’ah di Bulan Rajab

Bid’ah yang umumnya terjadi di bulan Rajab adalah mengkhususkan bulan ini untuk melakukan amal ibadah tertentu, seperti puasa shalat malam, shalat Raghaib, dan semacamnya. Mereka yang melakukan hal ini biasanya berdalil dengan hadis dhaif dan hadis palsu. Syaikhul Islam Ibn Taimiyah mengatakan: Mengkhususkan bulan Rajab…. untuk berpuasa dan i’tikaf, tidak terdapat riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pula dari para sahabatnya, dan tidak pula dari para ulama kaum muslimin masa silam. Sebaliknya, disebutkan dalam hadis yang shahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpusa Sya’ban. Dan beliau tidak berpuasa dalam satu tahun yang lebih banyak dari pada puasa beliau di bulan Sya’ban. (HR. Al Bukhari & Muslim).” (Majmu’ Fatawa, 25/ 290 – 291)

Syaikhul Islam juga mengatakan: Sesungguhnya mengagungkan bulan Rajab (dengan memperbanyak amal) termasuk perbuatan bid’ah yang selayaknya dihindari. Demikian pula menjadikan bulan Rajab sebagai momen khusus untuk melaksanakan puasa, termasuk perbuatan makruh (dibenci), menurut Imam Ahmad dan beberapa ulama lainnya. (Iqtidha’ Shirathal Mustaqim, 2/624 – 625)

Secara khusus ada beberapa amalan bid’ah yang sering dilakukan di bulan Rajab, diantaranya adalah:

Pertama, Shalat Raghaib
Bid’ah ini berdasarkan satu hadis palsu yang panjang, menceritakan tentang tata cara shalat Raghaib, do’a-do’anya, dan janji pahala yang akan diperoleh bagi setiap orang yang melaksanakannya dengan sempurna. Para ulama telah sepakat bahwa hadis tentang shalat Raghaib adalah hadis palsu. As Syaukani mengatakan: “Para ulama pakar hadis telah sepakat bahwa hadis tentang shalat Raghaib adalah hadis palsu.” (Al Fawaid Al Majmu’ah, hal. 47 – 48). keterangan yang sama juga disampaikan oleh Al Fairuz Abadzi As Syafi’i.

Imam Ibnul Jauzi mengatakan: “Orang yang membuat hadis ini menetapkan aturan bahwa orang yang hendak melaksanakan shalat Raghaib harus berpuasa terlebih dahulu di siang harinya. Kemudian dia tidak boleh berbuka sampai melaksanakan shalat maghrib dan shalat sunah Raghaib. Dalam shalat ini, dia harus membaca tasbih panjang sekali dan bacaan sujud yang sangat panjang. Sehingga orang yang melaksanakan amalan ini akan merasakan keletihan yang luar biasa. Sungguh saya merasa cemburu dengan Ramadlan dan shalat tarawih. Bagaimana seseorang lebih memilih shalat ini dibandingkan puasa Ramadlan dan tarawih. Namun sebaliknya, masyarakat lebih memilih dan lebih memperhatikan shalat ini, sehingga orang yang tidak pernah shalat jamaah-pun ikut menghadirinya.” (Al Maudhu’at, 2/125 – 126)

Kedua, Peringatan Isra’ dan Mi’raj
Tanggal 27 Rajab menjadi satu agenda penting bagi kaum muslimin. Mereka meyakini bahwa pada tanggal itu terjadi peristiwa isra dan mi’raj. Padahal para ulama berselisih pendapat tentang tanggal terjadinya isra – mi’raj. Disebutkan oleh Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarokfuri, ada sekitar 6 pendapat ulama, terkait dengan tanggal kejadian isra – mi’raj. Salah satunya adalah tanggal 27 Rajab tahun ke-10 setelah beliau diutus sebagai nabi. Namun pendapat ini tertolak, karena para ahli sejarah menegaskan bahwa Khadijah meninggal di bulan Ramadlan tahun kesepuluh setelah kenabian. Sampai Khadijah meninggal belum ada kewajiban shalat lima waktu.

Para ulama sepakat bahwa peringatan isra – mi’raj adalah acara bid’ah. Ibnul Qoyim menukil keterangan Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, yang mengatakan: “Tidak diketahui dari seorang-pun kaum muslimin, yang menjadikan malam isra – mi’raj lebih utama dibandingkan malam yang lainnya. Lebih-lebih menganggap bahwa malam isra lebih mullia dibandingkan lailatul qadar. Tidak seorang-pun sahabat, maupun tabi’in yang mengkhususkan malam isra dengan kegiatan tertentu, dan mereka juga tidak memperingati malam ini. Karena itu, tidak diketahui secara pasti, kapan tanggal kejadian isra – mi’rah.” (Zadul Ma’ad, 1/58 – 59)

Ibnu Nuhas mengatakan: “Memperingati malam isra – mi’raj adalah bid’ah yang besar dalam urusan agama. Termasuk perkara baru yang dibuat-buat teman-teman setan.” (Tanbihul Ghafilin, hal. 379 – 380. Dinukil dari Al Bida’ Al Hauliyah, hal. 138)

***

sumber: http://muslimah.or.id/manhaj/bulan-rajab.html

Is gelatin halal?

•2011/06/15 • Leave a Comment

The following article claims that Gelatin derived from pork ingredients is halal due to a protein chemical change. The evidence in this article is flawed, as we will discuss immediately following it.

Subject: [SalafiEducation] Re: Pork in Frito Lay-Chips and the ‘asl of istihalaAs Salaam `Alaykum wa RahmatAllaah,Concerning the issue of the pork in the frito-lays brand chips, more research needs to be done as to whether it is changed from one form or state to another. There is a fiqh principle known as istihala which states, “Ruling upon an object is upon what it is named (what it is), if the name (what it is) changes then so does the ruling.”

This was principle was discussed in detail in a lecture by Shaykh Muhammad Bazmool (hafidahullah) , Professor at Umm ul Qura Makkah, based on a fatwa given by Shaykh Al-Albaanee (rahimahullah) on gelatin. The principle is also discussed by Ibn Hazm (rahimahullah) , the exponent of the Literalist school, in his manual Al Muhalla. As the Shaykh so perfectly described it in his lecture, “We must be careful when we call things haraam because it is a form of thulm (oppression) . Scholars have said that it is   worse that you make something halaal to haraam rather than making something haraam to halaal. This deen of Allaah has been made yusr (easy) let us not make it ‘usr (hard).”

I am not a scholar, nor do I like potato chips (frito-lays or any other) but we should get a fatwa from the `ulema on this before we make our own fatwa, because the enzymes used in these frito-lays come from pork, but they could have changed over in the chemical process to something entirely different, and so the ruling would now be different. Wallahu Ta’ala ‘Alim.

The following is the transcription of the lecture given by Shaykh Muhammad Bazmool (hafidhahullah) :

The Fiqh Principle of Istihala – Changing from impure to pure

(Taken entirely from a dars given by Sh. Muhammad Bazmool, Professor at Umm ul Qura Makkah translated by Moosa Richardson and a fatwa given by Shaykh al-Albaani)

Istihala is when something becomes pure. It was najis (impure) but it is now taahir (pure). A good example would be maitah (animal carcass): it is najis, but should it be burned and become ashes, or decompose and become earth, then it is taahir, it is no longer najis. This can happen with dung or feces or whatever. Whenever something changes from one property to another, then the ruling likewise changes.

Example: Let us say that someone uses the fat of a dead animal to make soap. That fat is najis, but the chemical change that it was put through makes it taahir.

Ibn Hazm put it concisely when he said, “Ruling upon an object is upon what it is named (what it is), if the name (what it is) changes then so does the ruling.”

He also mentioned in his book of fiqh, Al-Muhalla: “If the quality of the substance of naturally impure objects changes the name which was given to it so that it is no more applicable to it and it is given a new name which is given to a pure object, so it is no more an impure thing. It becomes a new object, with a new rule.”

Meaning that if the natural composition of a substance changes to another substance of a different composition, so much so that you can no longer call the new substance by the name of what it was– ruling upon that substance changes too.

Proof/Example 1:

The companions (radyallahu anhum) used to eat a cheese that came from the land of the disbelievers. In that cheese was a part of the calf which was slaughtered by the disbelievers in a way that is not in accordance with Islaam. The companions knew this, but they also knew that the prohibition was upon the calf, what is directly from the calf, and what could be properly called part of the calf; the ruling is not upon that which you cannot identify as part of the calf nor is it called any longer such-and-such part of the calf. This is called istihala.

Proof/Example 2:

Another proof from the Sunnah: The Prophet (sallallahu ‘alayhi wa sallam) forbade making vinegar out of wine, but he said that if you should come across vinegar that has been made from wine then it is halaal.

Why?

The ruling is upon what the object is, and not what it was. Wine is haraam; vinegar is not, and before the wine became an intoxicant, it was halaal. Why? Because it was fruit before that.

Proof/Example 3:

Allah says in the Qur’an:

“And surely there is a lesson for you in the cattle we give you to drink of what is in their bellies from between the feces and blood, pure milk, wholesome to those who drink it.” (16:66)

Allah is putting forth an example for us of how something pure can come from something impure.

And we can also use as proof something that we’ve already gone over.

The Prophet (sallallahu ‘alayhi wa sallam) said that when the hide of maitah (the carrion) is tanned, then it is taahir. He (sallallahu ‘alayhi wa sallam) gave us a method to purify something which was first impure.

Let us examine things we are familiar with: mono and diglycerides, whey, gluten, emulsifiers, gelatin, and whatever else is on the international haraam list. These by-products sometimes come from animals, pigs even, in which case the ruling on the initial substances is that they are haraam. But the initial substances (e.g. fat, marrow, cartilage, etc.) are put through chemical change so that you no longer can even call it “pig fat” or “animal bone” or “skin” or “cartilage”, etc. because it is no longer that, hence it is taahir, it is halaal.

What is gelatin? As Oxford dictionary of science defines: “A colorless or pale yellow, water-soluble protein obtained by boiling collagen with water and evaporating the solution. It melts when water is added and dissolves in hot water to form a solution that sets to a gel on cooling.” (page 290)

Is this a chemical change or is this not a chemical change? Is it protein any longer? No, it is not.

You are in disbelief so you ask, “But how can it be halaal when it came from something haraam?”

Because of the proofs mentioned above, the ruling is not based upon what it was, the ruling is based upon what it is. A Hanafi scholar, Ibn Abedin gave the example: “the swine which drowns in a salt lake and decomposes and becomes salt itself, is now halaal.”

And other Hanafi scholars go on to say: “salt is different from meat and bones. If they become salt, they are salt.”

To take the salt example further: salt consists of sodium chloride (NaCl) when together they are the halaal food known as salt, when separated they make up two poisonous substances which are then haraam for consumption.

The ahnaaf (Hanafis) also use as an example the human semen, saying that it is najis, then when it inseminates the egg and becomes a blood clot it is still najis, but when it becomes flesh it is no longer najis. And the ahnaaf are not the only ones who take this position.

The examples are numerous and they extend beyond food: Yesterday a man was kaafir and going towards Hell, today he is Muslim, so what is the ruling upon him? It is based upon what he is today.

We must be careful when we call things haraam because it is a form of thulm (oppression) . Scholars have said that it is worse that you make something halaal to haraam rather than making something haraam to halaal. This deen Allah has made yusr (easy) let us not make it ‘usr (hard). Wallahu ‘Alim.

End of Dars

Please check the original lecture in this link: http://www.salafitalk.net/st/viewmessages.cfm?Forum=10&Topic=3488

Regarding the article in which it discusses

proofs for why gelatin is believed to be permissible

These two things are not similar: decomposing things that change into something later … and putting pork into a big pot with other ingredients, stirring it all up, and then baking it in an oven. How can it be halal to knowingly eat any food in which one of the ingredients is pig or pig oil? It doesn’t go through a naturally occuring transformation like salt just because it’s been cooked. Sure, it may change from thin to thick, etc. But the name of something isn’t what matters. WHAT is in it, is what matters.

Intoxicants are haram. If it’s no longer capable of causing intoxication, then it’s not haram. Intoxication is an effect of the food. Comparing this to pork is like comparing apples and oranges. They don’t compare. Pork is haram to ingest, period.

A REFRESHER ON THE HARM OF PORK INGREDIENTS

* Pork Tapeworm: http://en.wikipedia.org/wiki/Taenia_solium

  • “In Muslim countries, it is found only very rarely, due to religious dietary restrictions.”

* Pork tapeworm infection: http://www.medterms.com/script/main/art.asp?articlekey=18494

  • The signs and symptoms of the disease depend on the location and number of cysticerci in the body.

    • Cysticerci in the muscles: Cysticerci in the muscles generally do not cause symptoms. However, you may be able to feel lumps under your skin.

    • Cysticerci in the eyes: Although rare, cysticerci may float in the eye and cause blurry or disturbed vision. Infection in the eyes may cause swelling or detachment of the retina.

    • Cysticerci in the brain or spinal cord (neurocysticercosis): Symptoms of neurocysticercosis depend upon where and how many cysticerci (often called lesions) are found in the brain. Seizures, and headaches are the most common symptoms. However, confusion, lack of attention to people and surroundings, difficulty with balance, swelling of the brain (called hydrocephalus) may also occur. Death can occur suddenly with heavy infections.

Yes, it is inconvenient to have to rule out several more store bought foods. But since when was anything good or worthwhile in life easy?

It is related in al-Bukhari and Muslim that the Prophet, sallallahu aleihi wa sallam, said: “The value of [one’s] deeds is determined by [one’s] intentions; and thus for each shall be according to his intentions.”

Yes, this religion has been made easy for us. But that is no excuse to do whatever we want. That means we are to pick the easy path when faced with two or more HALAL choices.

LOOKING AT THE INGREDIENTS LABEL ON THE BOX

If a label on food from the USA says LECITHIN, this is various oils from animals including pork. If, however, the label says SOY LECITHIN, this is the oils from soy and okay. Look on your labels. If it a box from the usa and it says GELATIN or LECITHIN, do not eat it. Well, unless you don’t care about those pig tapeworm and other garbage from the pig possibly entering your body. Or maybe you think Allah will just “understand” that it’s okay because of the inconvenience of having a diet different from the majority. In Muslim countries, they usually do not use the pork oils when creating gelatin and so they are usually ok to eat. You don’t have to use pork oil to create gelatin.

Ideally, one would contact the food manufacturers to determine the ingredients for all the processed food we tend to eat. Or, baring time constraints, one would rely on the Muslim organizations that have already done the research for us.

Creating food called “gelatin”, which isn’t the same as something becoming salt over a long natural process, is simply a cooking process.

Why would we want even a drop of pork or the oils from pork ….. in our food? It’s not like we’re starving or there is no alternative.

CHEMICAL CHANGE?

Using words like enzymes and proteins just seems to complicate a very simple matter.

The motion of cooking something doesn’t make it halal. If that were the case, cook pig meat all by itself until the proteins and enzyme content has changed (which is what happens when you cook food) and then eat it. Even though the pig meat has gone through a chemical change, it is NOT halal.

If you cook a slab of pig meat, it also goes through a chemical protein change, but it is NOT halal to eat. The fact that something results in a chemical protein change IS IRRELEVANT.

Here is some proof that SIMPLY COOKING FOOD can cause a chemical change:

From “Cooking Eggs, Chicken and Pork”http://www.everything2.com/index.pl?node_id=1005183

Eggs, chicken and pork all benefit from not being overcooked. Overcooked scrambled eggs will be watery. Why? Well, when the eggs first set, they’ve reached a temperature of about 145°F. They are ready to eat at this point. If the temperature of the eggs rises further, to about 165°F, the protein in the eggs undergoes a second chemical change which results in a tighter protein matrix. This squeezes water out of the eggs, resulting in tough watery eggs.

A similar process occurs in pork. When pork is just done, it’s at about 145°F as well. It is as tender as it will ever be. If the temperature of the pork is allowed to rise over about 170°F, water will be squeezed out of the pork, and the pork will toughen. Unlike the ruined eggs, however, the pork can be brought back to salvation. Heating to 185°F for an extended period of time results in a third chemical change in the pork. This change affects the interconnectedness of the individual strands of muscle constituting the pork. The pork will break into pieces after heating this hot over a long period of time. This is the fundamental goodness of Carolina Bar-B-Que.

Chicken breast behaves much like pork in that it possesses a similar set of three chemical changes that occur as it’s cooked, at similar temperatures. Another aspect of cooking to the second degree of tender is that a smaller piece of meat is produced. Some pork will shrink by as much as 50% during good pulled pork cooking.

APPLYING THE RULING CORRECTLY

>From the article in question, it says, “The ruling is upon what the object is, and not what it was.”

Yes, that is correct. It is food with pig as one of the ingredients when cooking. It is therefore not halal.

CONCLUSION

While someone may want to chide others for “making halal into haram,” it should be noted that there are other valid differences of opinion in which one of the opinions is that something is halal and the other opinion is that something is haram. So, just picking the side of “halal” doesn’t always make a person to be on the right side of an issue. One could equally argue that making something haram into halal is a form of oppression, as it physically can harm the body and can anger Allah if done. However, we would get nowhere.

We simply have to just discuss the point, which is whether or not cooking food (resulting in a chemical change) makes something haram into halal. If that were true, then we could just cook pure pork meat and because it goes through a chemical change, we would then believe it is ok to eat.

Please don’t over-complicate a very simple directive. It’s really quite simple: don’t ever eat a food that you believe contains or may contain pork.

Allah is our Protector.

Foods produced in the West, such as gelatin

Islam Q&A

Sheikh Muhammed Salih Al-Munajjid

Question:

For a great time now my community and I have been concerned with the issue of foods such as Gelatin, mono and dyglycerides, pepsin and rennetAll these thing are in our foods today and yet we do not know what we can eat and the reason for each. PLease give me a very detailed response that could end this trouble.

Answer:

Praise be to Allaah.

Allaah has blessed His slaves by creating for them all kinds of provision on earth, and He has permitted them to eat from that which is halaal (permissible) and good; this includes very many things, it is not limited. Allaah says (interpretation of the meaning):

“O mankind! Eat of that which is lawful and good on the earth, and follow not the footsteps of Shaytaan (Satan). Verily, he is to you an open enemy.” [al-Baqarah 2:168]

Allaah forbids a limited number of foods, as He says (interpretation of the meaning):

“Say (O Muhammad): “I find not in that which has been revealed to me anything forbidden to be eaten by one who wishes to eat it, unless it be Maitah (a dead animal) or blood poured forth (by slaughtering or the like), or the flesh of swine (pork); for that surely, is impure or impious (unlawful) meat (of an animal) which is slaughtered as a sacrifice for others than Allaah (or has been slaughtered for idols, or on which Allaah’s Name has not been mentioned while slaughtering).” [al-An’aam 6:145]

The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) forbade the eating of every carnivorous animal that has fangs, and every bird which has talons. (Narrated by Muslim, 6/60)

And he forbade the flesh of (domestic) donkeys (narrated by al-Mukhari in al-Fath, no. 4215).

Of the foods which are to be found nowadays, some of them are clearly haraam, such as dead meat [from an animal which has died naturally as opposed to being slaughtered properly] and pork. Some foods may contain ingredients and derivatives which come from haraam sources, so we have to find out where they come from so that we may know what the ruling is concerning them. The gelatin which was mentioned in the question may originate from the skin, muscles and bones of haraam animals such as pigs. Hence gelatin which is derived from collagen which comes from pigs is haraam, because it is as if the pig had been turned into salt. The most correct view is that it is haraam even if it has been changed, so long as it originally came from a pig, which is haraam.

The fats which are used in foods come either from vegetable sources or animal sources.

If they come from vegetable sources they are halaal, so long as they have not been mixed with anything that is impure (najjis) or anything that could contaminate them. If they come from animal sources, they are either from animals that we are permitted to eat or animals that we are not permitted to eat.

If they come from an animal that we are permitted to eat, then they come under the same ruling as the meat of that animal.

If they come from an animal which it is haraam for us to eat – such as pigs – then we look at whether they are used in foods or for other purposes.

If they are used for non-food purposes, e.g. many fats are used in making soap, then there is a difference of scholarly opinion, but the most correct view is that they are haraam.

If they are used in foods, e.g., pig fat (lard) is used in making sweets and other foods, this is haraam.

With regard to cheese: if it is made from the milk of an animal which we are not permitted to eat, then according to scholarly consensus it is not permissible to eat it. If it is made from the milk of an animal which we are permitted to eat, and it is known that it is made with rennet that has been derived from an animal slaughtered according to sharee’ah and it has not been mixed with any najaasah (impurity), then it may be eaten.

If it was made with rennet derived from dead meat, there is a difference of scholarly opinion as to whether we may eat it, but the most correct view is that it is haraam.

If it was made with rennet from a source which is inherently naajis (impure), such as rennet derived from pigs, then it should not be eaten.

See Ahkaam al-At’imah fi’l-Sharee’ah al-Islamiyyah by al-Tareeqi, p. 482

In many cases these matters are unclear to the Muslim (he does not know the source of food ingredients). In this case, it is better to fear Allaah and be cautious. Avoiding doubtful things may be preferable to using them in these circumstances, as stated in the hadeeth narrated by al-Nu’maan ibn Basheer (may Allaah be pleased with him) who said: I heard the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) say – and al-Nu’maan pointed to his ears – “That which is lawful is plain and that which is unlawful is plain, and between the two of them there are doubtful matters about which not many people know. Thus he who avoids doubtful matters clears himself in regard to his religion and his honour, but he who falls into doubtful matters falls into that which is unlawful, like the shepherd who pastures around a sanctuary, all but grazing therein. Truly every king has a sanctuary, and truly Allaah’s sanctuary is His prohibitions. Truly in the body there is a morsel of flesh which, if it is sound, all the body is sound and which, if it is corrupt, all of it will be corrupt. Truly it is the heart.”

(Narrated by Muslim, 1599).

From the above we learn that the basic principle concerning food is that it is halaal, apart from those things for which there is clear evidence (daleel) that they are haraam, such as dead meat, blood, animals sacrificed to other than Allaah and meat over which the name of Allaah was not pronounced at the time of slaughter. Concerning the foods mentioned in the question: if it is proven that they contain ingredients derived from haraam sources, it is necessary to avoid them, otherwise they need not be avoided. If you are not sure whether they contain anything haraam or not – without being paranoid or succumbing to the waswaas (insinuating whispers of the Shaytaan) – then it is preferable to avoid them as a precaution out of fear of Allaah.

And Allaah knows best.

Source: http://muttaqun.com/gelatin.html

Other opinion from: http://www.salafitalk.net/st/viewmessages.cfm?Forum=10&Topic=3488

Brothers and sisters, there is a lot of research on the topic of gelatin, and both opinions are quite strong. The issue of Istihalah is one that is used by those who legalize gelatin. This refers to something that is ýchemicallyý changed and no longer can be taken back to its original form, the scholars gave examples of this rule in their works such as a pig transforming into salt, or feces transforming into soil. The most preponderant opinion regarding this is that the new substance that is chemically derived from the Haram is lawful to consume and use. This is the opinion of the Hanafi Scholars (al-Bahr ar-Raýiq for Ibn Nujaim vol. 1, pg. 932), the majority of the Maliki scholars (Al-Qawanin al-Fiqhiyah pg. 43) and the opinion of Sheik Islam b. Taymiyyah (Majmoo al-Fatawa vol. 12 pg. 86) along with the Dhahiri Scholars (al-Muhalýla vol. 1 pg. 661-761). There are many proofs that prove the veracity of this rule.

Keep in mind that the scholars when talking about Istihalah were talking about a complete transformation and not a partial one, this is clear from the examples they gave regarding this issue, a pig transforming into salt and feces transforming into soil and so on.

So what is gelatin? Gelatin is a protein substance derived from collagen, a natural protein present in the tendons, ligaments, and tissues of mammals. It is produced by boiling the connective tissues, bones and skins of animals, usually cows and pigs. Nowadays a seven step procedure is used to manufacture gelatin. Calfskin trimmings are soaked in lime water for several weeks to remove the hair. Later they are acidified and cooked. Pigskin and bone material are treated with weak acids while being washed. Several weeks are required to prepare the bones for cooking but the skins are ready within a few hours. Next, the material is cooked in large vats at about 120F for several hours. The broth is drawn off, more water is added, and the material is further cooked at greater heat. This is repeated five or six times. The broths are filtered, concentrated in a vacuum, then dried to a jelly on a rubber belt passing through a refrigerated area. The resulting sheets of jelly are dried in hot air, and the final gelatin is ground to the powder we are familiar with at the market. In the United States, food gelatin comes almost exclusively from pigs and cows. The three sources of gelatin are pigskins, calfskins, and ossein (dried cattle bones).

Gelatin can be derived from a number of sources, one should not be able to differentiate between them if the chemical change is one that is complete. Investigators, scientists and chemists who have studied the chemical composition of gelatins and the collagens from which they are derived have found that even after all this prolonged processing, pig gelatin can be differentiated from beef gelatin! The arrangement of the amino acids in the gelatin is very similar to that of the parent collagen. In other words, the animal source of the gelatin can be identified by its amino acid composition. When pig skin gelatin is eaten, a set of amino acids peculiar to pig is eaten. A pig is not a cow; their skins are distinct, the collagens in the skins are different, the processed gelatins are different. In the Journal of Health and Healing, it states: ýa pig is a pig right down to the single molecule of collagen. A pig is a pig, clear down to its enzymes.ý (Vol. 12, No. 1, page 30-2)

The Fiqh Councils of Makkah and Jeddah have issued religious decrees that state that it is prohibited to use gelatin that is derived from unlawful sources.

Since there is a difference of opinion in this issue, it is best to avoid gelatin derived from unlawful sources altogether. Alhamdulilah there are many alternatives that one can turn to here in the West. The Prophet, may Allah praise him, said: ýLeave that which you are doubtful in for that which you are not.ý Imam as-Sindi said: ýThe meaning here is if someone is unsure as to whether something is Haram or Halal that one should avoid it altogether and take that which is clearly Halal.ý

Beda Cuka dan Khamar

•2011/06/15 • Leave a Comment

Cuka telah lama dikenal. Bahkan di zaman Rasulullah Muhammad sekalipun, cuka telah dikenal. Zat berbentuk cair ini, digunakan sebagai temanmakanan . Pada saat itu, Rasulullah menggunakan sambal cuka untuk teman makan roti. Para juru masak juga menggunakannya sebagai pelengkapmakanan atau masakan.

Makin luasnya penggunaan cuka, membuat kita terkadang lalai mengenai status kehalalan cuka itu sendiri. Menurut Anton Apriyantono, Dosen Teknologi Pangan dan Gizi, Fakultas Teknologi Pertanian, IPB, jangan salah membedakan antara cuka dengan khamar.

Pada saat ini, cuka atau karib disebut vinegar berasal dari bahan kaya gula seperti anggur, apel, nira kelapa, dan malt. Gula sendiri, seperti sukrosa dan glukosa, dalam pembuatannya melibatkan proses fermentasi alkohol dan fermentasi asetat secara berkesinambungan.

Secara kimiawi, perubahan utama yang terjadi mula-mula gula diubah menjadi alkohol (etanol) lalu menjadi asetat secara terus menerus. Apabila cuka terbuat dari bahan-bahan tersebut pada umumnya disebut cuka atau vinegar saja.

Selain itu, cuka dapat juga dibuat dari bahan minuman beralkohol, baik cider maupun wine. Kedua jenis bahan ini diubah menjadi vinegar melalui proses fermentasi.

Pada akhirnya proeses fermentasi tersebut mampu mengubah alkohol menjadi asam asetat. Hasilnya adalah cider vinegar atau wine vinegar. Anton menuturkan wine vinegar biasanya digunakan dalam pembuatan saus, contohya saus tomat.

Lalu cuka jenis apa yang dapat dikatakan halal maupun haram? Anton menyatakan cuka akan berstatus halal jika bahan bakunya adalah halal. Meski dalam pembuatannya terjadi proses fermentasi yang menyisakan alkohol yang berkadar kurang dari satu persen.

Pada masa Rasulullah, jelas dia, pembuatan cuka menggunakan bahan utama yang kaya akan gula. Selain itu juga menghasilkan proses fermentasi yang merupakan fermentasi alkohol (fermentasi yang hasil utamanya alkohol) serta fermentasi asetat secara terus menerus.

Tetapi bila cuka dibuat dari khamarseperti winedan cider yaitu wine vinegar, rice vinegar,cider vinegar dan sherry vinegarmaka umat Islam tak diperbolehkan mengonsumsinya.

Ia pun menyitir Hadis Abu Daud yang meriwayatkan dari Anas, sesungguhnya Abu Thalhah bertanya kepada Nabi tentang anak yatim yang mendapatkan warisan khamar. Kemudian Nabi bersabda, maka tumpahkanlah dia. Abu Thalhah menyatakan apakah tak sebaiknya dibuat cuka saja. Namun Nabi mejawab, tidak.

Selain atas dasar Hadis di atas, Anton menyatakan bahwa untuk mengubah minuman keras menjadi cuka tak dapat terjadi jika tak ada campur tangan manusia.

Maksudnya, khamar harus dikeluarkan dari wadahnya ke wadah yang terbuka. Dan dibiarkan dalam suhu ruang. Sebaliknya bila minuman keras itu tetap saja dalam botol maka kecil kemungkinannya untuk dapat berubah menjadi cuka.

Ada hal lain yang mesti diwaspadai pula, yaitu cider dalam bentuk apple cider. Minuman ini termasuk dalam minuman beralkohol dalam kadar hingga 5,86 persen. Tentunya tak boleh dikonsumsi oleh umat Islam.

Dan minuman sering pula dijadikan bahan pembuat cuka apel. Meski sebenarnya cuka apel dapat dibuat dari sari apel. ”Konsumen harus hati-hati apakah cuka apel itu terbuat dari apple cider atau dari sari apel. Jika cuka apel dibuat dari apple cider maka haram dikonsumsi,” tandasnya.

Anton mengungkapkan, sekarang banyak sekali cuka apel yang beredar di pasaran. Dan dipercaya memiliki efek bagi kesehatan. Sayangnya, hingga sekarang belum jelas apakah cuka apel itu terbuat dari apple cider atau bukan.

Ia menyarankan agar masyarakat Muslim berlaku hati-hati. Lebih baik jangan dulu mengonsumsi cuka apel jika tak mengetahui secara jelas dari mana bahan bakunya. Dari apple cider atau bukan.

sumber: http://www.halalguide.info/2009/06/30/beda-cuka-dan-khamr/

Survey sholat dan baca quran pemuda Indonesia

•2011/06/14 • 1 Comment

Jakarta – Survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) bersama Goethe Institute menunjukkan kaum muda muslim cukup rendah dalam menjalankan kewajiban salat 5 waktu dan membaca Al Quran. Namun, mereka menjunjung tinggi nilai-nilai konservatif.

Hal ini terungkap dalam survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) bersama Goethe Institute yang disampaikan Direktur LSI, Burhanudin Muhtadi, dalam jumpa pers di Goethe Institute, Jalan Sam Ratulangi, Jakarta Pusat, Selasa (14/6/2011).

Survei bertema “Tata nilai, impian, cita-cita pemuda muslim di Asia Tenggara” ini diadakan di 33 provinsi di Indonesia dengan 1.496 responden yang berusia 15-25 tahun. Responden berpendidikan SD hingga perguruan tinggi. Survei dilakukan dengan wawancara langsung 18-26 November 2010.

Survei menunjukkan kaum muda Islam yang selalu menunaikan salat 5 waktu (28,7 persen), yang sering salat 5 waktu (30,2 persen), yang kadang-kadang salat 5 waktu (39,7 persen), yang tidak pernah salat 5 waktu (1,2 persen).

Kaum muda muslim yang selalu membaca Al Quran (10,8 persen), yang sering (27,5 persen), yang kadang-kadang (61,1 persen) dan yang tidak pernah (0,3 persen).

Kaum muda muslim yang selalu menjalankan ibadah puasa (59,6 persen), sering (30,7 persen), kadang-kadang (8,9 persen), tidak pernah (0,7 persen).

“Untuk yang selalu salat 5 waktu dan membaca Al Quran ternyata cukup rendah. Walau nilai-nilai konservatif masih dipegang tinggi di Indonesia,” papar Burhanudin.

Mengenai isu-isu liberal apakah pemuda muslim setuju atau tidak, menunjukkan kaum muda muslim tidak setuju minum-minuman keras (88 persen), yang setuju minum minuman keras sangat sedikit (10,8 persen).

Kaum muda muslim yang tidak setuju ganja 99,2 persen, dan hanya 0,4 persen yang setuju. Seks sebelum nikah yang tidak setuju 98,3 persen, dan yang setuju 1,4 persen, yang tidak setuju nonton film porno 95,7 persen dan 4,1 persen setuju. Tidak setuju dengan gay dan lesbian 98,9 persen dan 0,6 persen setuju.

sumber: http://www.detik.com

http://us.detiknews.com/read/2011/06/14/152950/1660063/10/lsi-minat-salat-baca-al-quran-kaum-muda-muslim-rendah?9911022

Fadhilah surat Al mulk

•2011/05/18 • Leave a Comment

ـ(1) عن أبي هريرة، عن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال: سورة من القرأن، ثلاثون اية؛ تَشْفَعُ لصاحبها حتى يُغْفَرَ له: تبارك الذي بيده الملك. (رواه أبو داود واللفظ له, والترمذي وغيرهما، وصححه ابن حبان والحاكم والذهبي، وحسنه الترمذي والألباني)ـ

Dari Abu Huroiroh, Nabi -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Ada surat dari Alqur’an yang terdiri dari 30 ayat, Surat tersebut dapat memberikan syafa’at bagi ‘temannya’ (yakni orang yang banyak membacanya) sehingga orang tersebut diampuni dosanya, yaitu: Surat Tabarokalladi bi yadihil mulk“. (HR. Abu Dawud dg redaksinya, diriwayatkan pula oleh at-Tirmidzi dan yang lainnya. Hadits ini di-shohih-kan oleh Ibnu Hibban, al-Hakim, dan adz-Dzahabi, sedangkan at-Tirmidzy dan Albani menghasankannya)

ـ(2) عن أنس بن مالك قال، قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: سورة من القرآن، ما هي إلا ثلاثون آية، خاصمت عن صاحبها حتى أدخلته الجنة، و هي تبارك. (رواه الطبراني في المعجم الأوسط وحسنه الألباني في صحيح الجامع)ـ

Anas bin Malik mengatakan, Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam bersabda: “Ada surat dari Alqur’an, ia hanya terdiri dari 30 ayat, Surat tersebut dapat membela ‘temannya’ sehingga memasukkannya ke surga, yaitu: Surat Tabarok“. (HR. Thobaroni dalam Mu’jamul Ausath, dan dihasankan oleh Albani dalam Shohihul Jami’)

ـ(3) عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: من قرأ تبارك الذي بيده الملك كل ليلة، منعه الله عز وجل بها من عذاب القبر، وكنا في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم نسميها “المانعة”، وإنها في كتاب الله عز وجل سورة، من قرأ بها في ليلة فقد أكثر وأطاب.  (رواه النسائي واللفظ له والحاكم وقال صحيح الإسناد وحسنه الألباني)ـ

Abdulloh bin Mas’ud mengatakan: “Barangsiapa membaca surat Tabarokalladi bi yadihil mulk setiap malam, maka Alloh azza wajall menghindarkannya dari adzab kubur, dan dahulu kami (para sahabat) di saat Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- (masih hidup) menamainya “al-Mani’ah” (penghindar/penghalang). Sungguh surat tersebut ada dalam Kitabulloh, barangsiapa membacanya dalam suatu malam, maka ia telah banyak berbuat kebaikan” (HR. Nasa’i dengan redaksinya, diriwayatkan pula oleh al-Hakim dan ia mengatakan: sanadnya shohih, dan dihasankan oleh Albani)

ـ(4) عَنْ جَابِرٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَنَامُ حَتَّى يَقْرَأَ الم تَنْزِيلُ وَتَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ. (رواه أحمد والترمذي وغيرهما وصححه الألباني)ـ

Dari Jabir, sesungguhnya Nabi -shollallohu alaihi wasalam- tidak pernah tidur (malam) sehingga ia membaca surat Alif lam mim tanzil (biasa disebut Surat as-Sajdah) dan surat Tabarokalladi bi yadihil mulk (biasa disebut surat al-Mulk). (HR. Ahmad, at-Tirmidzi dan yang lainnya, dihasankan oleh Albani)

ـ(5) عَنْ وَاثِلَةَ بْنِ الْأَسْقَعِ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أُعْطِيتُ مَكَانَ التَّوْرَاةِ السَّبْعَ، وَأُعْطِيتُ مَكَانَ الزَّبُورِ الْمَئِينَ، وَأُعْطِيتُ مَكَانَ الْإِنْجِيلِ الْمَثَانِيَ، وَفُضِّلْتُ بِالْمُفَصَّلِ. (رواه أحمد وحسنه الألباني والأرناؤوط)ـ

Dari Waatsilah ibnul Asqo’, sesungguhnya Nabi -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Aku telah dikaruniai Assab’u yang sebanding dengan kitab Taurat, aku juga diberi Alma’in yang sebanding dengan kitab Zabur, aku juga diberi Almatsani yang sebanding dengan kitab Injil, dan aku dikaruniai kelebihan dengan Almufash-shol” (HR. Ahmad, dan dihasankan oleh Albani dan Al-Arnauth).

Hadist: Ajaib urusan orang mu’min

•2011/04/12 • Leave a Comment

قالَ رَسُولُ اللهِ: (عَجَبًا لأَمْرِ المؤمنِ إِنَّ أمْرَه كُلَّهُ لهُ خَيرٌ ليسَ ذلكَ لأَحَدٍ إلا للمُؤْمنِ إِنْ أصَابتهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فكانتْ خَيرًا لهُ وإنْ أصَابتهُ ضَرَّاءُ صَبرَ فكانتْ خَيرًا لهُ) رواهُ مُسْلِمٌ

“Ajaban li amril mu’min, inna amrahu kullahu lahu khairun Walaisa dzalika li ahadin illa lil mu’min.
In ashabat-hu sarraa-u syakara fakaanat khairan lahu  Wa in ashabat-hu dharra-u shabara fakaanat khairan lahu ” (HR Muslim dari Ibnu Sinan).

“How wonderful is the affair of the believer, for his affairs are all good, and this applies to no one but the believer. If something good happens to him, he is thankful for it and that is good for him. If something bad happens to him, he bears it with patience and that is good for him.” (Narrated by Muslim, 2999).

Sungguh ajaib dalam urusan orang mukmin! Sesungguhnya setiap urusannya baginya ada kebaikan dan perkara ini tidak berlaku melainkan kepada orang mukmin.  Sekiranya dia diberi dengan sesuatu yang menggembirakan lalu dia bersyukur maka kebaikan baginya.  Dan sekiranya apabila dia ditimpa kesusahan lalu dia bersabar maka kebaikan baginya.